Technology

Pages

Selasa, Agustus 23, 2011

Cerpen Pemuda (Kemenpora) Untuk Usia 16-30 tahun


Saatnya berprestasi dalam Lomba Cipta Cerpen Pemuda 2011. Kementrian Pemuda dan Olahraga RI menggelar Lomba Cipta Cerita Pendek Pemuda 2011. Lomba ini diselenggarakan untuk memberikan apresiasi kepada pemuda yang berprestasi dan berbakat dalam bidang sastra. Selain itu kemenpora juga ingin memberikan ruang, pengakuan dan penghargaan terhadap pemuda Indonesia atas prestasi, karya dan kreativitas sebagai inspirasi dan motivasi bagi kalangan pemuda. 

Tahun ini, Lomba Cipta Cerpen Pemuda bertema "Ketika Pemuda Membangun Masyarakatnya". Untukmu warga negara Indonesia dari unsur pelajar, mahasiswa, dan pemuda umum berusia 16 sampai 30 tahun boleh ikut serta dalam lomba ini. 

Peserta bebas menulis cerpen dengan judul apa saja, namun isi cerpen berkaitan dengan tema lomba. Penulisan cerpen dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta diketik dengan huruf Times New Roman, ukuran 12, spasi 1 1/2, maksimal 20 halaman kwarto. Isi cerpen tidak mendiskreditkan SARA, gender, dan tidak melanggar UU pornografi atau perundang-undangan lainnya. 

Setiap peserta hanya boleh mengirimkan 1 judul cerpen dari karya terbaik. Cerpen yang diikutkan lomba adalah karya yang belum pernah dipublikasikan di mana pun dalam bentuk apapun. 

Jangan lupa, lampirkan pula biografi singkat maksimal satu halaman, fotokopi KTP, dan mencantumkan nomor kontak aktif (rumah, kantor, handphone) yang bisa dihubungi.. Sertakan juga fotokopi buku tabungan atas nama peserta dan NPWP pribadi karena hadiah akan langsung ditransfer ke rekening pemenang.

Batas terakhir penerimaan naskah cerpen dan lampirannya adalah 10 September 2011. Naskah cerpen yang sudah dikirim menjadi hak panitia. Hak cipta tetap ada pada penulis, sedangkan panitia hanya berhak untuk mempublikasikan dalam bentuk buku kumpulan cerpen.

Kirimkan naskah cerpenmu ke alamat:

Pengiriman via pos:
Panitia Lomba Cipta Cerpen Pemuda 2011
Asisten Deputi Peningkatan Kreativitas Pemuda
Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda
Kementrian Pemuda dan Olahraga RI
Jalan Gerbang Pemuda No. 3 Senayan, Jakarta

Pengiriman via email:
yadanu@ymail.com

Hadiah pemenang:
1. Tiga pemenang akan mendapatkan hadiah berupa tropi, piagam penghargaan, buku kumpulan cerpen, dan uang tunai sebesar:
Juara I : Rp 7.000.000
Juara II : Rp 6.000.000
Juara III : Rp 5.000.000
2. Tiga pemenang harapan ajan mendapatkan hadiah berupa piagam penghargaan, buku kumpulan cerpen, dan uang tunai sebesar:
Juara I : Rp 3.000.000
Juara II : Rp 2.000.000
Juara III : Rp 1.000.000
3. Empat belas nominator akan mendapat piagam penghargaan dan buku kumpulan cerpen.
4. Hadiah uang tunai tersebut belum termasuk pajak.

Dewan juri memutuskan 20 cerpen sebagai nominator dan cerpen tersebut akan dibukukan oleh Kemenpora RI bekerjasama dengan Yayasan Dayamuda Nusantara (Yadanu) dan Penerbit Auracitra. Dari 20 cerpen nominator tersebut, Dewan Juri akan memilih 3 pemenang dan 3 pemenang harapan. Pengumuman dewan juri tersebut dapat dilihat di www.kemenpora.go.id pada 30 September 2011.(opie)

Dia (Bag. 7)

Aku memperhatikan kembali Satrio. Kuperhatikan lebih lekat pemuda berkumis tipis di depanku itu. Satrio? Sepertinya di kehidupanku sebelumnya aku tak pernah mengenal seseorang bernama Satrio. Tapi, bagaimana mungkin dia bisa mengenalku?

"Maaf. Kamu pasti nggak kenal denganku. Aku memang bukan siapa-siapa." Satrio berjalan mendekatiku. Kuputuskan untuk menjauh darinya. "Jangan pergi dulu. Saya orang baik-baik kok. Percayalah!" Langkahku kembali terhenti.

Kulayangkan pandanganku ke sekitar tempatku berdiri. Suasana di depan kampus UIN Syarif Hidayatullah ini begitu ramai. Aku berpikir positif bahwa Satrio memang bukan orang jahat. Setidaknya aku masih punya waktu untuk mendengar penjelasan bagaimana mungkin dia bisa mengenalku.

"Saya Satrio. Saya bukan mahasiswa UIN Syahid ini. Kebetulan kawan saya sekelas dengan Mbak Diana dan kebetulan juga saya punya beberapa kepentingan dengan Mbak Diana. Punya waktu?" Satrio berkata santun. Benar-benar menunjukkan bahwa dia orang baik-baik. Namun, aku harus tetap waspada.

"Siapa orang itu? Saya takut kamu berbohong."

"Indra Pamungkas."

"Indra? Teman sekelas saya nggak ada yang namanya Indra. Maaf, Anda salah orang." Aku langsung memerintahkan kakiku untuk berlari. Menyeberangi jalanan di depan kampusku yang ramai. Biar saja. Semoga ia tidak mengikutiku.