Technology

Pages

Minggu, November 14, 2010

Beliau Masih Tetap Yang Terbaik

Oleh: Iqbal Kharisyie

Hanya satu contoh teladan
Muhammad, pemimpin kita
Lebih sayang umat ketimbang dirinya
Betapa aku merindukannya

(Nasyid by Snada)

Sebagai seorang muslim ketika diri saya ditanya, “Siapakah pemimpin idolamu?” Maka saya akan langsung dengan tegas menjawab: Nabi Muhammad. Ya, Muhammad adalah seorang pemimpin yang patut diidolakan. Bahkan harus. Tidak hanya sebagai pemimpin umat islam, Beliau juga adalah seorang pemimpin negara yang baik, pemimpin perang yang tangguh, pemimpin keluarga yang bertanggung jawab, dan pemimpin dirinya sendiri yang rendah hati. Lalu, apalagi yang perlu dipikirkan untuk tak mengidolakannya?

Secara umum, kepemimpinan atau sering kita sebut leadership adalah kemampuan seseorang untuk mengkomunikasikan dan mempengaruhi orang lain, sehingga terbentuk sebuah komunitas yang bersedia bergerak di bawah pengaruhnya. Dan kemampuan itu benar-benar dimiliki Rasulullah.

Sejarah mencatat bahwa sampai saat ini tak ada seorangpun yang mampu menandingi kepemimpinan Rasulullah. Dalam waktu yang relatif singkat pengaruhnya meluas ke seluruh negara dengan pengikut yang meyakini kebenarannya hingga sekarang. Bukankah itu bukti bahwa beliau punya kemampuan berkomunikasi yang baik. Tidak mungkin kepemimpinan Rasullullah berkembang dengan pesat jika Beliau tidak mempunyai kemampuan itu. Kemampuan yang langsung diberikan oleh Allah SWT.

Seorang pemimpin adalah pengaruh. Teladan yang baik untuk berbuat kebaikan. Pada usia 8 tahun, beliau telah menjadi teladan yang baik dalam dunia bisnis. Pada usia tersebut beliau telah menggembalakan kambing. Kemudian pada usia 12 tahun beliau berdagang sebagai kafilah ke negeri Syria hingga pada usia 25 tahun beliau menikahi Khadijah karena Khadijah kagum dengan jiwa kepemimpinannya yang gagah di samping juga Rasulullah adalah seorang yang sangat jujur.

Rasulullah sangat menjaga harga diri dan kehormatannya. Meskipun beliau dijamin masuk syurga beliau tetap ramah, tetap belajar dan bekerja keras. Beliau adalah seorang warga biasa ketika di tengah-tengah sahabatnya. Akan tetapi, beliau merupakan seorang pemimpin militer yang sangat tangguh dan pemberani manakala berada di tengah medan pertempuran menghadapi musuh-musuh Allah. Beliau tidak segan membunuh lawan ketika perang. Namun, jangankan memukul dengan tangannya yang suci, menghardik orang pun tak pernah beliau lakukan pada saat damai.

Sungguh, jika pemimpin negara ini mempunyai sifat seperti Rasulullah pasti negara ini akan menjadi negara yang super tangguh. Tapi, adakah? Kita memang tak bisa sesempurna beliau namun bukan berarti kita tidak bisa belajar seperti beliau.


Kriteria pemimpin sukses adalah yang disenangi bawahannya dan mampu menampung aspirasi mereka. Bersikap tegas namun tidak otoriter. Begitupun dengan Nabi Muhammad. Dalam kepemimpinannya, rasulullah bermusyawarah dengan kaum muslimin dalam banyak hal dan di berbagai situasi. Beliau mengambil pendapat Hubab ibnul-Mundzir yang mengusulkan untuk membuat sumur air minum di belakang tentara kaum muslimin pada perang Badar. Beliau juga pernah mengikuti pendapat kaum muslimin untuk keluar dari Madinah menuju bukit Uhud menyambut pasukan kaum Quraisy, meskipun beliau tahu bahwa ini adalah keputusan yang keliru. Beliau pun bermusyawarah dengan Salman al- Farisi, ketika mengusulkan untuk menggali parit di sekeliling Madinah. Dan, masih banyak lagi situasi dimana Rasululah bermusyawarah bersama kaum muslimin.

Berikut saya kutip isi dari sebuah buku berjudul “The Power Of Leader” tentang kebersahajaan Rasulullah lainnya.

Dalam setiap kebaikan, Nabi Muhammad menjadi teladan terbaik. Jika ia menyuruh untuk berjihad maka ia akan berada di barisan paling depan. Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Ketika pertempuran sudah berkecamuk begitu dahsyat, maka kami berlindung di balik Rasulullah.”

Beliau bertempur paling depan, bersedekah seperti angin, dan hidup bersahaja. Ketika Rasulullah menyuruh bertahajud, maka beliau bertahajud sampai kakinya bengkak. Ketika menyuruh berpuasa, maka beliau berpuasa hingga perutnya sampai diganjal dengan batu. Ketika menyuruh orang berakhlak, beliaulah akhlaknya yang paling mulia. Apa pun yang beliau katakan pada umatnya pasti beliau lakukan. Itulah sebabnya ribuan tahun sampai kini, ribuan kilometer jaraknya, masih tetap kuat pengaruh beliau kepada umat. (The Power of Leader, Penerbit AKBAR, 2007. Hal. 108)

Subhanallah. Semoga akan ada pemimpin yang nyaris (mirip) seperti Rasulullah yang memimpin negeri ini. Negeri yang sudah terlalu carut-marut, negeri yang telah tertimpa degradasi moral, dan negeri yang penuh sekali dengan pemimpin-pemimpin yang memenuhi kantong dan perut mereka sendiri. Semoga akan ada pemimpin yang bersikap, berbuat, dan bertindak seperti yang disabdakan Rasulullah, “Seorang Jenderal yang brillian dalam pertempuran bukanlah yang membunuh 100 tentara dalam pertempuran. Akan tetapi, memenangkan 100 pertempuran tanpa membunuh musuhnya.”

Rasulullah juga bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinanmu.”

Jumat, November 12, 2010

The Summary of August Rush Movie

This movie tells us about Lyla falls in love with Louis when the first time they meet. Lyla is a famous beuatiful cellist, and Louis is an Irish guitarist and lead singer of a band in club. They meet each other following the music on the top of a building. After that first meeting they agree to meet again at the Town Park. But, they are separated because Lyla’s father forbids her. In fact, from that one night together Lyla becomes pregnant.

Afterward, Lyla gets an accident and bears but her father tells her that the baby died. Actually, her father sent Lyla’s baby to an orphanage. He thinks that Lyla’s baby will affect her career. He wants Lyla to have a success without a child. Both Lyla and Louis give up their musical career after that.

Eleven years later


Evan Taylor, a very skilful music boy, lives in Walden County Home for Boys. He is eleven-year-old. All of his friends in Walden County think that Evan is crazy and freak because Evan has an imajination he can hear a music everywhere. Only one wants to be his friend. No matter what his friends say Evan believes that the music he always hears comes from his Mother and father.

One day, Mr. Jeffries, a social worker from the Child Services Department, want to place Evan to a new foster parent but Evan doesn’t want to be adopted and finally he decides to run away from Walden County and follows the music. Evan believes that the music he heard will deliver him to meet his parents.

In New York, Evan meets Arthur, a boy who is playing the guitar on a street for getting money. He follows Arthur and he is trapped in a protection of an eccentric street musician, Wizard. At first, Wizard promises success and gives him a commercial name, August Rush, convincing him he will be sent back to the orphanage if his real name is ever discovered. One night, some police raid Wizard’s place to catch Arthur.

After that raid, Evan takes refuge in a church, where he impresses with his natural talent and he is entered at the Juilliard School by Reverend J. At Juilliard, Evan is to be an excellent student and he composes August Rhapsody in C major that will be performed at the New York Philharmonic in Central Park. When evan is rehearsing to prepare his Rhapsody Wizard found him and took him after threatening Evan’s real name.

When her father gets sick Lyla knows that her baby is still alive. Her father tells the truth to Lyla he had forged her signature on the adoption papers. Then, Lyla goes to the orphanage that adopted her son. There, she meets Mr. Jeffries and finally she knows her son’s name is Evan Taylor. Knowing her son’s name and his picture, Lyla decides to stay in New York while looking for him. Lyla also decides to play music again and also receives to play in Evan’s concert. Evan uses August Rush as his name.

In the other place, Louis is looking for Lyla and luckily he meets with Evan and duels their skill. Louis don’t know that Evan is his son and Evan says his name is August Rush and has an own concert but he can come to the concert because there will be something worse if he comes.

In the night of concert, Evan chooses to run from Wizard attending the concert. In the same time, Louis is on the way home after performing with his band. Then, Louis comes to the Central Park because he read August Rush’s name along with Lyla Novacek’s name on a billboard concert. At last, Louis meets Lyla when Evan is performing.

Moral Value:
The moral value of this movie is that life is full of choice and every choice has an own consequence. So, if we want to take a decision or to choose something, we must think about the risk or the consequence. Like when Evan chooses to run away from Orphanage, when Louis chooses to leave his band and Lyla stops playing music, or when Lyla’s father makes a decision keep away Lyla’s baby from her. All of that have consequences. And no matter what will be happened don’t regret at all because life is a choice.

Sabtu, November 06, 2010

Hati Merdeka, The third sequels Of Merah Putih


Hi, Guys. Do you like watching movie? Especially struggling movie that can empower your nationalism and commemorate our heroes? “Merah Putih” trilogy is the best choice for you because this film tell us about our patriot’s effort to get a freedom in the past. If you like this genre you should not be overlooked.

Well, two of three sequels of this trilogy have been released. These are “Merah putih” as the first and “Darah Garuda” as the second one and of course, if you’ve watched both of them you are waiting for the third sequel of this movie.

But, i think this is not a good news for you because “Hati Merdeka” as the third sequel of Merah Putih will be released in June 2011 when the holidays. But, we can tell you little about this third sequel.

The director of “Hati Merdeka”, Yadi Sugandi, said that this movie must be produced better than two sequels before. “Later, Hati Merdeka will be more scenes of war at sea. I think that’s most important difference of this third sequel.”

Yadi added that he will not doubt “Hati Merdeka” will be one of the most waiting movie in 2011 remembering the audience that has been owned since the first sequel. “Darah Garuda” itself had broken Box Office record with 700 thousand spectators watched the playback in the first week. “We’re optimistic. It’s easier to enter because already have their own audience.”

“Hati Merdeka” is expected to cost most than “Darah Garuda” or “Merah Putih” which spent US$ 2 milllion (Rp 17, 9 milliar). “Hati Merdeka” will be using Empty Shells to be imported from Germany because Germany is only producing Bullets for the shooting.

In addition, Stuart Tank also will be used in this film. Using of the Tank for one hour operation takes 80 liters of Gasoline. Meanwhile, for the filming of the day they wear a Tank for 12 hours.

Kamis, Oktober 21, 2010

Sepenggal Perjalanan (2 dari 4 bagian )

Oleh: Mufid Masngudi
(Penerima beasiswa pendidikan oleh Kedubes Mesir)

Kuwait 17 Agustus 2010/ 7 Ramadhan 1431

Pukul 06.00 pesawat tiba di Bandara Kuwait. Setelah keluar dari pesawat kami dijemput sebuah bus bandara menuju ruang tunggu. Selanjutnya kami melapor ke bagian pelayanan transit dan mendapat kartu makan sarapan pagi. Kami sempat kebingungan mencari tempat mengambil sarapan. Bandara yang begitu luas, dengan banyak ruangan. Bahkan kami harus tiga kali naik turun lift. Setelah beberapa kali bertanya  ke petugas, akhirnya tempat yang kami cari ketemu juga.

Saya memilih juz dan beberapa potong ess. Itulah pertama kali saya mengenal ess. Makanan khas orang mesir. Itu pun saya tahu setelah beberapa hari tinggal  Mesir. Terbuat dari gandum. Berbentuk bulat tipis sebesar lingkaran piring. Ada orang indonesia yang menamakannya martabak mesir. Tapi jangan membayangkan seperti martabak di indonesia. Manis dengan berbagai pilihan rasa. Ada juga yang menyebut roti empleng-empleng. Setelah dicicipi sama sekali tak berasa. Akhirnya saya hanya sarapan segelas juz.

Sesuai jadwal kami transit selama 6 jam. Kira-kira pukul 11 siang penerbangan baru akan dilanjutkan. Masih ada 5 jam ke depan. Kami mencari mushalla untuk beristirahat. Sebelum keluar kami sempat berbincang dengan sonaji dan ketiga kawannya. Mereka memilih untuk berlama-lama di ruang makan. Setelah lama mencari, ternyata hanya ada ruang kecil dan pengap di salah satu sudut bandara. Kami mengurungkan niat dan memilih duduk di ruang tunggu bandara. Tidak banyak yang bisa kami lakukan. Selain hanya berganti posisi duduk. Beberapa orang tampak khusuk membaca Al-Quran. Memanfaarkan momen ramadhan. Tak jauh dari tempat saya terlihat mahasiswa asal negeri jiran. saya sempat berkenalan dengan salah dari mereka . Namun tak banyak yang kami bicarakan karena terkendala bahasa yang kadang tidak nyambung.

Di tempat terpisah tampak pula rombongan ibu-ibu. Jumlahnya sekitar 30 orang. Mereka memilih lantai sebagai alas duduk, sambil sesekali merebahkan badan. Dari muka mereka jelas sekali bahwa mereka adalah orang Indonesia. Juga dari bahasa daerah  yang sayup terdengar. Mereka tak lain adalah rombongan TKW asal Indonesia yang akan dipekerjakan di beberapa negara timur tengah.

Saya langsung teringat bahwa hari ini adalah tanggal 17 Agustus. Saya membayangkan di Indonesia sedang ada perayaan besar kemerdekaan. Kemeriahan pernak-pernik kemerdakaan; bendera yang dipasang di rumah-rumah warga; gapura yang berdiri di setiap sudut gang. Belum lagi kemeriahan berbagai acara baik yang sarat dengan manfaat ataupun yang sekedar hura-hura. Semuanya untuk kemerdekaan. Tapi kemerdekaan yang mana? Sedang di sini ada puluhan bahkan mungkin jutaan Warga Indonesia sedang menggantungkan nasibnya ke negeri orang. Harusnya mereka juga punya hak merayakan ( baca: menikmati ) kemerdekaan.

Akhirnya empat jam yang membosankan terlewati. Kami bersiap melanjutkan perjalanan. Lagi-lagi mengantri bersama puluhan penumpang. Di depan kami ada pasangan muda dengan empat anaknya. Sang istri  tampak tergopoh sambil menggendong anaknya yang masih kecil. Tiga anaknya yang lain mengikuti di belakangnya. Sementara sang suami mendorong troli dengan setumpuk barang. "Keluarga produktif, "Kataku.

Pukul 11.00 pesawat mengudara. Saya sudah tidak sabar lagi ingin segera sampai di Kairo. Tapi butuh 3 jam lagi untuk sampai ke sana. Saya berusaha menikmati detik-detik akhir perjalanan. Memanfaatkan fasilitas pesawat. Di depan setiap penumpang terpasang monitor kecil. Beberapa pilihan hiburan bisa  dimanfaaatkan. Chanel televisi, murattal, game, atau film.  Saya memilih mendengarkan bacaan murattal dari syekh Al-Ghomeidi, diselingi makan siang terakhir. Sampai tak terasa 3 jam perjalanan pun terlewati.

Bandara Cairo,

Alhamdulillah pukul 13.30 kami sampai di bandara Cairo. Hal pertama yang kami lakukan adalah menukar rupiah ke mata uang Mesir. Saya masih menyisakan sekitar 300 ribu rupiah. Tak jauh beda dengan teman yang lain. Hanya ustad gatot yang menyisakan rupiahnya mendekati satu juta. Tapi diluar dugaan ternyata sisa rupiah yang kami bawa tidak bisa ditukar alias tak laku. Money changer hanya menerima beberapa mata uang saja. Semua terbaca di dinding. Beruntung  karena ustad Hamzah membawa dolar dari Indonesia. Setelah mendapat beberapa ratus pond kami beristirahat sejenak sambil menunggu orang yang akan menjemput kami di bandara.

Sebuah pemandangan menakjubkan tak luput dari pengamatan saya. Seorang polisi bandara terlihat  khusuk membaca Al-Quran. Sambil tetap berdiri bersiaga. Sesekali  kakinya digerakan. Menghilangkan rasa pegal setelah berjam-jam berjaga. Tak jauh dari situ tampak juga seorang polisi yang sedang mendirikan sholat. Memanfaatkan sudut sempit bandara.  Sebuah potongan koran dipakai sebagai sajadah.

Dari Sonaji dan Lukman kami mendapati nomor telephon orang yang akan menjemput. Namun kami tidak bisa langung menghubungi. Nomor handphone kami tak berlaku lagi. Hanya ustad Gatot yang sempat mendaftarkan nomor simpatinya ke paket roaming. Itupun dengan pulsa yang terbatas. Kami mencoba menelpon melalui telephon umum yang ada di bandara. Tapi tak berhasil juga.

Akhirnya  kami bersepakat untuk keluar dari bandara tanpa menunggu orang yang akan menjemput. "Mungkin juga orang tersebut menunggu di luar, seorang diantara kami memberi masukan. Kami segera menyelesaikan formulir kedatangan. Setelah itu, saya memberanikan diri mengambil antrian pertama diantara teman-teman. Di luar dugaan petugas menahan passport saya dan meminta saya menunggu tanpa menjelaskan alasannya. Begitu pun dengan keempat teman saya juga mengalami hal serupa. Kemudian kami berlima diarahkan ke bagian imigrasi. Sebelum masuk saya sempat  menghubungi Sonaji yang masih mengantri bersama penumpang lainnya. Kami bersepakat bertemu di luar bandara.

Kami masuk ke sebuah ruangan berukuran 2x3 meter. Sangat kotor dan pengap. Cat dinding yang tak lagi berwarna. Ada empat bangku yang sudah termakan usia memenuhi ruangan. Sedang di atas kami sebuah kipas rusak dan berdebu tergantung. Bergoyang ke kanan dan ke kiri terkena hembusan angin dari sela-sela ventilasi. Beberapa botol minuman berserakan di lantai.  Beginikah cara mereka menyambut orang asing? " Pikirku. Saya tak kuasa membayangkan berbagai hal buruk yang bisa menimpa kami. Mulai dari kemungkinan dideportasi, atau mungkin kami akan mencicipi penjara bawah tanah mesir yang terkenal menakutkan.

Di dalam ruangan sudah ada seorang ibu dengan lima orang anaknya. "Keluarga produktif , " Gumamku.  Sepertinya warga asli mesir. Terlihat dari  bahasa " amiyah " yang dia  pakai. Sejenak saya terhibur dengan tingkah pola anak-anaknya. Sementara ustad Gatot dan ustad Hamzah masih berusaha menghubungi pihak KBRI. "Assalamulaikum, Pak Mukhlasan..." Konsentrasi saya buyar mendengar satu nama disebut. Ustad Hamzah berhasil menghubungi salah seorang staff KBRI. Sayang baru beberapa menit  komunikasi terputus.

Hari ini tanggal 17 Agustus. Pak mukhlasan tak bisa datang dengan alasan ada acara perayaan kemerdekaan di KBRI. Lagi-lagi soal kemerdekaan. Tapi Kemerdekaan yang mana ? Sementara di sini ada warganya yang sedang meminta kemerdekaan. Kami mengirim sebuah pesan singkat ke Pak Mukhlasan. Memanfaatkan sisa pulsa simpati yang ada.  Meminta tolong agar mengirim seseorang menjemput kami. Tapi tidak dipenuhi juga. Kami hanya diminta menunggu  sampai petugas imigrasi melepaskan kami. Karena menurut Pak Mukhlasan selama ada bukti visa beasiswa Al-Azhar tidak akan ada masalah.

Pukul 16.00 kami belum juga bisa keluar. Sedang ibu beserta empat anaknya sudah sejam yang lalu keluar. Beberapa orang yang sempat masuk ke ruangan ini juga langsung keluar hanya beberapa menit kemudian. Bahkan ada yang dibawa masuk sambil diborgol tangannya. Terakhir ada seorang warga Palestina dan Nigeria yang juga terkena cekal.  Saya sempat berbincang sebentar dengan warga palestina. Sedang warga Nigeria sempat meminjam charger nokia milik saya. Entah berapa kali kami menghadap ke petugas, menanyakan alasan kami dicekal. Tapi jawabanya tetap sama. Ishbir...

Ruangan kembali sepi. Hanya ada kami berlima. Saya sempat tertidur beberapa menit. Udara panas masuk melalui celah-celah dinding.  Membawa pesan ilahi melalui suara adzan yang sayup terdengar.  Kami meminta izin melaksanakan Sholat Ashar. Saya dan ustad Gatot melaksanakan sholat terlebih dahulu . Sedang yang lain menjaga tas berisi dokumen-dokumen penting. Selesai melaksanakan sholat kami berlima dipanggil menghadap. Setelah menunjukan bukti kelulusan dan formulir pengajuan visa, akhirnya kami dilepaskan.  Alhamdulillah, mungkin ini adalah jawaban dari doa yang kami panjatkan sepanjang sholat  tadi.

Kami segera keluar dari ruangan menyebalkan itu. Sejurus kemudian segera mengambil  langkah seribu menuju tempat pengambilan barang. Entah bagaimana nasib koper kami setelah ditinggal selama 3 jam. Kami  panik, melihat bandara begitu sepi. Tidak terlihat lagi antrian penumpang seperti saat kami baru tiba. Begitu juga di tempat pengambilan barang,  tak ada satu koper pun yang tersisa. Sepertinya orang-orang sedang bersiap untuk berbuka puasa. Kami bertanya ke salah seorang polisi bandara yang sedang bertugas. Polisi tersebut berbicara dengan bahasa " arab amiyah" sehingga sulit kami pahami. Polisi itu Lalu mengarahkan kami ke petugas yang lain. Dari petugas itu kami mendapatkan informasi kalau koper kami sudah ada yang mengambilkan. Petugas berusaha meyakinkan kami sambil memberikan isyarat  4 jari tangannya. Kami langsung paham. Benarkah sonaji dan ketiga kawannya? Kami belum sepenuhnya percaya. Tapi paling tidak sedikit melegakan kami.

Setelah itu kami nekat keluar dari bandara. Udara panas langsung menerpa wajah kami. Sambutan yang sungguh luar biasa.  Saya tak kuasa menahan jaket yang saya pakai sejak berangkat dari indonesia.  Satu-persatu wajah kami perhatikan. Berharap ada orang Indonesia yang bisa ditemui. Tapi, tak satupun orang indonesia yang terlihat.  Hanya wajah-wajah asing. Begitupun dengan sonaji dan keempat kawannya. Entah berada dimana mereka? Beberapa orang menawarkan jasa taksi. Kami berusaha tak peduli. Kami bingung bercampur takut. Tak tahu ke siapa kami bertanya?  Kami pun tak tahu mau kemana?. Kami duduk sejenak menenangkan pikiran.
Bersambung... 

Jumat, Oktober 15, 2010

Cerita waktu

By: Iqbal El-kharis

Kupandangi jarum jam yang terus berdetik
tik
tik

tik
mencapai angka
satu
dua
tiga
...
enam
...

       dan
                                                  dua belas


tak berhenti
lambat
pasti
menerus

Sabtu, Oktober 09, 2010

Ahmadinejad Puji Sikap Paus Soal Pembakaran Al Quran

Liputan6.com, Teheran: Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad telah menulis surat ucapan terima kasih kepada Paus Benediktus XVI yang telah mengutuk ancaman seorang pastor Amerika Serikat untuk membakar Al Quran pada peringatan serangan 11 September.

"Saya berterima kasih atas sikap Anda mengutuk tindakan tidak bijak dari sebuah gereja di Florida, Amerika Serikat, yang menghina firman Allah dan menyakiti hati jutaan umat Islam," kata Ahmadinejad dalam surat yang kemudian ditayangkan pada laman kantornya.

Ahmadinejad mengatakan kepada Paus bahwa ada keperluan "untuk kerjasama lebih erat di antara agama-agama Tuhan guna membatasi aksi-aksi merusak misal mengabaikan ajaran agama, mempengaruhi orang untuk menjadi materialistik yang mengikis rasa kebersamaan, terutama keluarga dan generasi muda." Surat itu, Rabu (6/10), disampaikan kepada Paus oleh Wakil Presiden bidang Parlemen Mohammad Reza Mirtajodini.

Paus bulan lalu mengecam ancaman pendeta Terry Jones untuk membakar kitab suci umat Islam. "Saya berdoa bagi para korban dan saya minta penghormatan terhadap kebebasan beragama dan (semoga) semangat logika rekonsiliasi dan perdamaian mengalahkan kebencian dan aksi kekerasan," kata Paus di Vatikan.

Pertanyaannya sekarang: "Apakah tindakan Paus Benedictus murni mengutuk atau ada maksud lain?"