Kamis, Januari 17, 2013
Minggu, Januari 06, 2013
Tentang Media, Alamat, dan Honor
Tulisan ini adalah hasil copas dari: Sini
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10125793
Kompas termasuk media yang memiliki begitu banyak rubrik untuk
masyarakat. Selain opini, ada rubrik lain yang bisa dicoba seperti
Teroka dan Teropong. Bedanya, jika rubrik opini muncul setiap hari,
rubrik-rubrik lain ada yang tiap satu atau dua minggu. Ada juga rubrik
cerpen dan puisi yang muncul setiap hari minggu. Untuk rubrik Cerpen
konon sekrang (sampai juli 2011) di asuh oleh Putu Fajar Arcana,
sementara untuk rubrik Puisi di asuh oleh Hasif Amini.
Alamat email: opini@kompas.co.id / kompas@kompas.com / kompas@kompas.co.id.
Honor di Kompas konon rata-rata di atas satu juta.
Jawa Pos/Indopos (www.jawapos.com)
Ada beberapa rubrik yang bisa dicoba: “opini”, “ruang putih (esai budaya)”, “di balik buku”, “cerpen”, “puisi” dsb..
Alamat email untuk opini: opini@jawapos.co.id.
Untuk cerpen, puisi, ruang putih kirim ke dos@jawapos.co.id.
Untuk rubrik Resensi buku kirim ke ttg@jawapos.co.id disertai foto penulis dan cover buku.
Oya,
email ariemetro@yahoo.com tak lagi digunakan karena, Mas Arif Santoso
sudah tidak lagi menjadi redaktur di Jawa Pos tetapi dipindahkan menjadi
Pimred di Harian Jogja Raya)
Seputar Indonesia (www.seputar-indonesia.com)
Alamat
: redaksi@seputar-indonesia.com. Ada Opini (muncul setiap hari), Kolom
Budaya, Resensi, Puisi, Cerpen (ada di hari Minggu saja). Untuk cerpen
kirimkan ke donatus@seputar-indonesia.com.
Honor resensi buku 200 ribu. Opini dan Kolom Budaya 400 ribu, Cerpen 400 ribu, puisi sekitar 200 ribu.
Lampung Post (www.lampungpost.com):
Email utama : opinilampost@yahoo.co.id
Untuk Kolom Opini: redaksi@lampungpost.co.id / redaksilampost@yahoo.com
Untuk Esai Budaya/Sastra dan Puisi: lampostminggu@yahoo.com,
Honor Opini 200 ribu, Cerpen 200 ribu
Media Indonesia (www.media-indonesia.com):
Untuk Kolom Opini dan Resensi Buku : redaksi@mediaindonesia.co.id /opinimi@yahoo.com
(Panjang resensi buku maximal 800 kata. Begitu juga dengan Opini. Saat kirim lebih baik semua email dikirimi.
Honor resensi buku dan Opini 400 ribu. Nama Kolom Resensi Buku-nya: Bedah Pustaka)
Bisnis Indonesia:
email: redaksi@bisnis.co.id
(Biasanya tulisan yang nyerempet soal bisnis dan ekonomi. Honor sekitar 300 ribu)
Pikiran Rakyat (www.pikiran-rakyat.com) (Jawa Barat):
Untuk Kolom Opini: opini@pikiran-rakyat.com
Untuk Resensi Buku: kampus_pr@yahoo.com
Untuk Cerpen dan Puisi: ahda05@yahoo.com dan khazanah@pikiran-rakyat.co.id
Honor Opini sekitar 300 ribu.
Honor resensi buku 200 ribu.
Honor Cerpen: 300 ribu
Honor Puisi: 200-300 ribu (tergantung berapa puisi yang dimuat)
Koran Tempo (www.korantempo.com)
Untuk Kolom Opini: koran@tempo.co.id
Untuk Resensi Buku, Esai Sastra dan Puisi kirim ke:
ktminggu@tempo.co.id/ndewanto@mail.tempo.co.id (email Nirwan Dewanto)
Honor cerpen sekitar 700 ribu, Opini sekitar 600 ribu. Resensi buku honor 400 ribu.
Republika (www.republika.co.id)
Umail utama: sekretariat@republika.co.id / redaksionline@republika.co.id
email
tersebut bisa digunakan untuk kirim opini, cerpen (Republika tak ada
lagi rubrik puisi). jangan lagi mengirim ke email ahmadun21@yahoo.com,
karena dengar-dengar Pak Ahmadun Yosi Herfanda sudah tidak lagi di
Republika.
Direpublika juga ada rubrik Guru Menulis. Kirimkan ke : akademia.republika@yahoo.com dan cc kan ke email utama.
Kalau
cerpen/opininya dimuat kira-kira honornya Rp.400.000. Sementara honor
rubrik Guru Menulis sebesar kurang lebih 200ribu. Tetapi sayang, Koran
Islami ini kurang menghargai penulis karena honornya dikirimkan dalam
waktu yang lama setelah tulisan kita dimuat. bisa lebih dari tiga bulan
honor baru dikirim, tentu setelah keringat kita kering.
Suara Karya (www.suarakarya-online.com)
Alamat email: redaksisk@yahoo.com / redaksi@suarakarya-online.com .
Khusus cerpen, dan puisi bisa langsung di kirim ke alamat redakturnya, Bang Ami Herman:amiherman@yahoo.com.
Rublik budaya (puisi, cerpen, catatan budaya) muncul setiap hari sabtu, cek saja web-nya, suara karya biasanya disiplin posting.
Nah, honor untuk Cerpen, Puisi dan Opini adalah 150 ribu. kayaknya dari dulu tidak naik-naik.
Suara Pembaruan (www.suarapembaruan.com)
Email: koransp@suarapembaruan.com
Semua
jenis tulisan dikirim ke email itu. Ada Kolom Opini, Resensi Buku,
Puisi dan Cerpen. Honor cerpennya 400 rb, puisi 300 rb, resensi 150 ribu
(lumayan gede lho, meski tentu dipotong pajak). Dulu ada
email budaya@suarapembaruan.com untuk kirim cerpen dan puisi tetapi
sepertinya email tersebut penuh dan tak lagi dipakai.
Koran Jakarta (www.koran-jakarta.com)
Email: redaksi@koran-jakarta.com
(Setiap
hari ada Kolom Opini (namanya Gagasan) dan resensi buku (Perada). Honor
400 ribu untuk Opini, Resensi buku 280 ribu. Kalau mau dimuat, biasanya
ditelfon terlebih dahulu.
Suara Merdeka (www.suaramerdeka.com)
Email
umum: naskah@suaramerdeka.info dan wacana_nasional@gmail.com (untuk
opini nasional) dan wacana_lokal@gmail.com untuk opini isu lokal.
Sementara untuk cerpen dan puisi kirim ke:swarasastra@yahoo.com / ke
email redakturnya, Mas Triyanto Triwikromo:triwikromo@yahoo.com
Ini
koran Jawa Tengah lho, tetapi sangat terbuka bagi semua penulis dari
luar Jateng. Bahkan sebagian besar karya khususnya cerpen dan Puisi
didominasi oleh penulis luar Jateng.
Honor cerpen sekitar 400rb,
puisi 300 rb, resensi 200 ribu, opini wacana lokal kayaknya juga 200 rb,
dan wacana nasional sekitar 400.000.
Di jawa tengah juga
ada tabloid yang namanya CEMPAKA MINGGU INI, terbit setiap jum’at. Ada
rubrik cerpen, bisa dikirim ke sontrotku@gmail.com. Honornya Rp.150.000.
sayang, tabloid ini tidak ada web nya, jadi kalau tulisan kamu dimuat
kadang tidak ngerti. Tapi tetap cantumkan nomor rekening, insya Allah
honor tetap dikirim kok.
Kedaulatan Rakyat (www.kr.co.id)
Tiap
minggu menampung cerpen, puisi, cerkak, cerita anak, resensi buku. Yang
saya jelas tahu adalah email untuk kirim puisi dan cerpen ke kedaulatan
Rakyat, yaitu: jayadikastari@yahoo.com. Nah, Honornyanya biasnaya
berbeda-beda, kayaknya redakturnya menentukan honornya. Ada penulis kaya
Mahwi Air Tawar cerpennya mendapat honor Rp.400.000, saya sendiri
pertama kali puisi dimuat di koran ini dihargai Rp.100.000, cerpen
pernah dapat honor Rp.250.000. begitu...
KR, meskipun punya situs, tapi tak pernah memposting cerpen dan puisinya. Kenapa ya?
Minggu Pagi
Kantornya
di dekat KR, masih satu group. Untuk cerpen, puisi, essai sastra dan
budaya kirim ke redakturnya, Mas Latief Noor Rochmans (semoga tidak
salah tulis):we_rock_we_rock@yahoo.co.id , emailnya aneh ya, dan memang
beliaunya senang lagu rock. Hehe...
Honornya Minggu Pagi
sudah naik lho. Cerpen: 150.000, puisi (tergantung berapa puisi yang
dimuat), kalo satu kolom untuk puisi diisi hanya puisi kita maka
honornya sekitar Rp.100.000. Oya, cara koran yang terbit seminggu sekali
tiap Jumat ini menghargai tulisan juga sama seperti KR, masing-masing
penulis berbeda2 honornya.
Tabloid NOVA
Cerpen, kirim ke nova@gramedia-majalah.com. Honornya Rp. 400.000.
HALUAN (Padang)
Cerpen dan Puisi kirim ke nasrulazwar@yahoo.com . Kata Esya Tegar Putra, honornya mencapai Rp.200 ribu.
Padang Ekspress
Cerpen
dan puisi kirim ke: yusrizal_kw@yahoo.com (Padang Ekpress Redaktur).
Sejak tahun ini (2011) Padang ekspess penaikkan honor cerpen menjadi 100
ribu.) Bagi kawan-kawan yang dimuat teman yang ada diPadang untuk minta
bantuan mengambilkan honornya, karena koran ini jarang2 mentransfer
honor penulis. Yang jelas, jangan sampai lupa tanggal pemuatannya.
HARIAN SINGGALANG (Padang)
Cerpen, puisi a2rizal@yahoo.co.id / hariansinggalang@yahoo.co.id / kj_sgl@yahoo.com
Majalah Horizon
Kirim cerpen ke: horisoncerpen@gmail.com, honornya 300 rb
Kirim puisi ke: horisonpuisi@gmail.com, honornya tergantung berapa puisi yang dimuat.
Kalau
tulisanmu dimuat di HORIZON, maka akan dikirim sampel majalahnya, jadi,
sertakan alamat jelas. kadang-kadang honor juga dikirim lewat wesel,
jadi tidak nyantumin rekening tidak masalah.
Selain media
di atas, ada beberapa media yang saya tidak tahu persis jumlah honornya,
tapi sepertinya berkisar di angka Rp.200.000,-. Ini dia:
(Radar Tasikmalaya)
radar.tasikmalaya@gmail.com
(Redaktur Sastra Radar Tasik)
sanggarsastratasik@yahoo.co.id
(Jurnal Medan untuk cerpen dan Puisi)
tejapurnama@yahoo.com
(Redaktur Analisa untuk cerpen dan Puisi)
rajabatak@yahoo.com
(Riau Pos Cerpen dan Puisi)
budaya_ripos@yahoo.com / habeka33@yahoo.com
Jurnal Nasional
witalestari@jurnas.com
redaksi@jurnas.com
Majalah Alia
majalah_alia@yahoo.com
Majalah Bobo
bobonet@gramedia-majalah.com
Harian Surya Surabaya
surya1@padinet.com
Majalah Mayara Surabaya
cerpenmajalahmayara@gmail.com (cerpen, jangan lupa lampirkan foto)
Radar Semarang, Esai untuk Kolom UNTUKMU GURUKU setiap hari Minggu, kirim ke:
editor@radarsemarang.com
Majalah Esquere
redaksi@esquire.co.id (Majalah Esquire)
cerpen@esquire.co.id (Cerpen Majalah Esquire)
Majalah Kartini
redaksi_kartini@yahoo.com
Majalah Story,
memuat banyak cerpen remaja, kirim ke:
erincantiq@gmail.com (Majalah Story)
Catatan Tambahan :
1. Untuk Rubrik Opini, secara umum tulisan berkisar 700-850 kata.
2.
Tulisan bisa dimuat satu hari setelah kirim, satu minggu, dua minggu
atau bahkan dua bulan setelah kirim, umumnya juga tanpa pemberitahuan
terlebih dahulu.
3. Selain actual, kenali karakter media dengan sering mengunjungi webnya masing-masing.
Kalau
kemudian tulisan kita dimuat, dan honor tak kunjung dikirim, memang
tidak ada salahnya kita menghubungi sekretariat atau bagian keuangan
media tersebut untuk menagih hak kita. Tapi, yang jelas berkarya ya
berkarya.... jangan dipusingkan masalah honor tulisan.
Saya
harap anda juga berkenan memberikan tambahan informasi mengenai alamat
media dan jumlah honor, karena waktu terus bergulir dan banyak hal yang
berubah.
Salam kreatif!
Jumat, Desember 28, 2012
Surat Cinta Dariku Untuk Kalian
To: Badan Pengurus Harian (BPH) dan semua Pengurus BEM Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris
Assalaamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh
Salam sejahtera
Menjumpai kalian dengan penuh cinta,
Sungguh, ada rasa haru saat jemari ini menari di atas petak-petak huruf di laptopku. Kalaupun boleh aku berceritera padamu, mata ini mengkristal meski terjangannya tak mampu menjebol dinding keangkuhanku sebagai laki-laki. Emakku pernah bilang bahwa tidak apa-apa kok laki-laki menangis. Namun dengan segenap kekuatan yang tergambar di senyum kalian aku menyunggingkan senyum bersama bayang senyum-senyum itu. Aku menulis surat ini karena aku ingin membuatmu ingat. Kalian masih bisa membukanya kapan saja. Aku tak ingin perasaanku hanya menjadi angin lalu kalau hanya kuucapkan di ruang dengar kalian.
Sudah berapa hari? Dua hari. Ya, sudah di angka dua. Kalian pasti bisa menebaknya angka dua untuk hal apa. Semoga kalian masih melekatkan ingatan tentang kebersamaan kita. Atau sudah lupa? Aku yakin kalian tak sejahat itu.
Berbilang setahun aku dan kalian melewati banyak kebersamaan. Melewatinya dengan penuh suka cita, luka dan duka, dan berujung dengan airmata penyesalan dan (semoga) bahagia. Ada banyak hati yang tergores, ada banyak kebahagiaan yang tercipta, namun apakah kalian merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan. Aku mencintai kalian. Dengan segala bentuk pengertian tentang cinta. Bukan hanya sebatas kata yang tertulis di surat ini tapi perasaan itu sudah melekat dan semakin tumbuh subur justru ketika waktu-waktu kebersamaan kita sudah menggambar kata 'jarang' dengan seenaknya. Bahkan mungkin 'satu-dua kali'. Atau 'tak pernah lagi'.
Hei, apa kabar perasaan kalian? Masihkah merindu dengan kebersamaan itu. Masihkah ada kata maaf yang tak sampai padaku. Percaya tidak? Dinding keangkuhan kelelakianku sekarang jebol. Semakin banyak kata yang terangkai di surat ini terjangannya semakin kuat. Maaf, semoga kalian juga seperti emakku. Aku bukan cengeng. Tapi, aku mencintai kalian. Percayalah. Sekali lagi ini bukan hanya sebatas barisan kata yang berjajar rapi di surat ini. perasaan ini semakin menjamur bak di musim hujan.
Dulu, saat aku terpilih jadi mahasiswa nomer satu di jurusan, aku sangat berharap bisa punya orang-orang yang hebat dan tangguh dan aku menemukan itu pada kalian. Tak perlu mengingat semua kekurangan-kekurangan karena itulah pembelajaran yang sama-sama kita dapat. Aku yang justru tidak hebat dan tangguh. Aku tak benar-benar bisa jadi 'mahasiswa nomer satu'. Aku banyak membuat kalian kecewa. Aku banyak meminta airmata kalian dan sedikit sekali menggambar senyum. Aku tak bisa berdamai dengan diriku sendiri. Aku tak bisa melenyapkan sifat-sifat burukku. Hingga akhirnya semakin banyak gerimis yang membadai.
Aku merasakan pelangi. Lihatlah. Ah, masak tak bisa kalian lihat? Jangan bilang kalau gerimis itu tak berubah jadi pelangi sedikitpun bagi kalian. Di akhir kebersamaan, bukanlah gerimis itu tak terus-menerus menjadi badai. Kita sama-sama menggambar pelangi, bukan? Maaf, kalau ternyata hanya aku saja yang menggambar pelangi gara-gara aku tak mau merasa bahwa aku gagal menjadi orang yang hebat dan tangguh.
Maaf.
Kalian tentu saja berhak menuntutku. Atas segala kekurangan dan kekhilafan. Tapi, aku mencintai kalian. Dengan segala bentuk pengertian dan definisi. Yang bukan hanya sebatas huruf-huruf yang merangkai menjadi kata-kata kepalsuan. Sungguh. Kutitipkan cinta itu pada beningnya embun pagi ini. Dan mendungnya langit siang ini, saat jemari ini menari.
Aku masih ingin bercengkerama dengan kalian. Bolehkah? Di banyak waktu yang kita punya. Di banyak kesempatan yang kita jumpai. Hingga akhirnya kita memang bertemu dengan mimpi-mimpi kita dan cinta ini hanya bisa tertanam lewat jembatan jarak nantinya.
Menjumpai kalian dengan cinta dan air mata,
Muhammad Iqbal
Jumat, Oktober 19, 2012
Bahasa Tidak Bertulang
*Bahasa Indonesia Sebagai Pemersatu Kerukunan Hidup Bermasysarakat, Berbangsa, dan Bernegara
Judul di atas memang sengaja saya pelesetkan dari sebuah ungkapan yang sudah sering memenuhi ruang dengar kita, lidah tidak bertulang. Lalu, apa maksudnya?
Ada makna penting dari judul di atas. Tidak beda jauh dengan makna ungkapan lidah tidak bertulang bahwa kita harus berhati-hati menggunakan lidah, ternyata kitapun harus berhati-hati dalam menggunakan bahasa. Seringkali karena kesalahan berbahasa akhirnya timbul pertengkaran, perkelahian, bahkan sampai pada takaran pembunuhan. Padahal bahasa adalah alat yang harusnya bisa mempersatukan dan memperkuat nilai-nilai kerukunan hidup. Semua ini diperparah dengan bahasa penghinaan, umpatan, dan cemoohan yang semakin banyak ditemui di "kamus" pergaulan sehari-hari. Ironisnya, bahasa-bahasa ini malah jadi tren tidak hanya di kalangan remaja saja, anak-anak usia sekolah dasar pun sudah bisa melafalkannya dengan fasih. Awalnya, bahasa-bahasa ini memang sebagai bahan becandaan namun akhirnya tidak sedikit kita temui anak-anak yang akhirnya berkelahi gara-gara dihina oleh teman sepermainannya. Bagi saya, ini bukan hal yang biasa dan tidak bisa dibiarkan. ini. Awalnya, bahasa-bahasa ini memang sebagai bahan becandaan namun akhirnya mereka terkena dampaknya sendiri.
Saya ambilkan contoh sederhana yang lain. Saat kegiatan pembukaan Masa Pengenalan Akademik (lebih sering disebut ospek) di kampus saya, satu orang perwakilan dari tiap fakultas diminta untuk naik diatas panggung untuk memberikan alasan mengapa akhirnya mereka memilih fakultas masing-masing. Ada tujuh fakultas di kampus saya dan ketika giliran perwakilan dari fakultas ekonomi menjelaskan alasannya banyak mahasiswa yang memintanya untuk turun dari panggung. Apa pasal? Alasan paling utama adalah karena dia menggunakan bahasa yang kurang tepat untuk menggambarkan pilihannya masuk fakultas ekonomi. Penjabaran kebanggaan dia memilih fakultasnya dibarengi dengan mengejek enam fakultas yang lain. Berbeda sekali ketika perwakilan dari fakultas Bahasa dan Seni berbicara yang sebenarnya maksud dari omongannya pun sama dengan perwakilan dari fakultas ekonomi tadi namun bahasa yang digunakan jauh lebih sopan.
Bayangkan, ketika Anda mempunyai sebuah pilihan kemudian ada seseorang yang mengatakan, "Ngapain milih itu? Gue dong pilihannya tepat. Tanpa pilihan gue pilihan elu nggak bisa apa-apa". Apa reaksi Anda? Pasti akan berbeda dan respon Anda akan positif apabila ada yang mengatakan, "Oh, elu milih itu. Nggak papa. Pilihan gue melengkapi pilihan elu. Begitu sebaliknya".
Dari kejadian di atas jelas sekali bahwa penggunaan bahasa dalam berinteraksi akan sangat mempengaruhi bagaimana hasil dari interaksi tersebut. Fungsi lain dari bahasa adalah untuk berkomunikasi dan dalam berkomunikasi kita harus dengan sadar bisa menentukan apa dan bagaimana bahasa yang tepat. Dalam hal ini apa dan bagaimana berkaitan erat dengan kapan dan dimana.
Lagi-lagi dari contoh di atas saja bisa kita analisi, kalau saja perwakilan dari mahasiwa ekonomi itu mengatakan kalimat-kalimat itu di situasi yang tidak resmi, misalnya dengan teman sejawat, responnya bisa positif. Tapi, kemudian sang penutur tidak sadar bahwa dia ada di sebuah forum besar yang mengharuskannya menggunakan bahasa yang sopan dan pantas.
Sekali lagi ditegaskan bahwa bahasa adalah alat pemersatu kerukunan hidup bukan sebagai pemecah persatuan. Jangan sampai kita mendapatkan boomerang dari bahasa yang kita pakai. Dan disinilah kita bisa memosisikan bahasa Indonesia sebagai pemersatu. Tidak sedikit, akhir-akhir ini, yang lebih senang menggunakan bahasa-bahasa asing yang belum benar-benar diserap menjadi kata baku, tak terkecuali bahasa daerah dan bahasa asing lainnya. Alasan lain bahasa akhirnya menjadi pangkal permasalahn adalah ketika ketika berkomunikasi, satu pihak tidak mengerti dengan apa yang ingin disampaikan karena sang penutur menggunakan bahasa-bahasa asing.
Bahasa Indonesia harus dipahami semua orang Indonesia agar bisa jadi bahasa pengantar dalam berkomunikasi. Jangan sampai ketika kita tercatat sebagai orang ber-KTP Indonesia tapi tidak mengerti bahasa sendiri. Banyak hal perlu dilakukan untuk meningkatkan bahasa Indonesia mejadi satu-satunya bahasa pengantar. Namun, ini tidaklah mudah. Mulai dari penyajian standard, pedoman, fasilitas, dan bimbingan dalam tujuan pengembangan kualitas bahasa Indonesia. Meski tidak mudah bukan berarti hal yang mustahil. Yang paling penting adalah kebanggan kita terhadap bahasa Indonesia itu sendiri.
Salam.
Judul di atas memang sengaja saya pelesetkan dari sebuah ungkapan yang sudah sering memenuhi ruang dengar kita, lidah tidak bertulang. Lalu, apa maksudnya?
Ada makna penting dari judul di atas. Tidak beda jauh dengan makna ungkapan lidah tidak bertulang bahwa kita harus berhati-hati menggunakan lidah, ternyata kitapun harus berhati-hati dalam menggunakan bahasa. Seringkali karena kesalahan berbahasa akhirnya timbul pertengkaran, perkelahian, bahkan sampai pada takaran pembunuhan. Padahal bahasa adalah alat yang harusnya bisa mempersatukan dan memperkuat nilai-nilai kerukunan hidup. Semua ini diperparah dengan bahasa penghinaan, umpatan, dan cemoohan yang semakin banyak ditemui di "kamus" pergaulan sehari-hari. Ironisnya, bahasa-bahasa ini malah jadi tren tidak hanya di kalangan remaja saja, anak-anak usia sekolah dasar pun sudah bisa melafalkannya dengan fasih. Awalnya, bahasa-bahasa ini memang sebagai bahan becandaan namun akhirnya tidak sedikit kita temui anak-anak yang akhirnya berkelahi gara-gara dihina oleh teman sepermainannya. Bagi saya, ini bukan hal yang biasa dan tidak bisa dibiarkan. ini. Awalnya, bahasa-bahasa ini memang sebagai bahan becandaan namun akhirnya mereka terkena dampaknya sendiri.
Saya ambilkan contoh sederhana yang lain. Saat kegiatan pembukaan Masa Pengenalan Akademik (lebih sering disebut ospek) di kampus saya, satu orang perwakilan dari tiap fakultas diminta untuk naik diatas panggung untuk memberikan alasan mengapa akhirnya mereka memilih fakultas masing-masing. Ada tujuh fakultas di kampus saya dan ketika giliran perwakilan dari fakultas ekonomi menjelaskan alasannya banyak mahasiswa yang memintanya untuk turun dari panggung. Apa pasal? Alasan paling utama adalah karena dia menggunakan bahasa yang kurang tepat untuk menggambarkan pilihannya masuk fakultas ekonomi. Penjabaran kebanggaan dia memilih fakultasnya dibarengi dengan mengejek enam fakultas yang lain. Berbeda sekali ketika perwakilan dari fakultas Bahasa dan Seni berbicara yang sebenarnya maksud dari omongannya pun sama dengan perwakilan dari fakultas ekonomi tadi namun bahasa yang digunakan jauh lebih sopan.
Bayangkan, ketika Anda mempunyai sebuah pilihan kemudian ada seseorang yang mengatakan, "Ngapain milih itu? Gue dong pilihannya tepat. Tanpa pilihan gue pilihan elu nggak bisa apa-apa". Apa reaksi Anda? Pasti akan berbeda dan respon Anda akan positif apabila ada yang mengatakan, "Oh, elu milih itu. Nggak papa. Pilihan gue melengkapi pilihan elu. Begitu sebaliknya".
Dari kejadian di atas jelas sekali bahwa penggunaan bahasa dalam berinteraksi akan sangat mempengaruhi bagaimana hasil dari interaksi tersebut. Fungsi lain dari bahasa adalah untuk berkomunikasi dan dalam berkomunikasi kita harus dengan sadar bisa menentukan apa dan bagaimana bahasa yang tepat. Dalam hal ini apa dan bagaimana berkaitan erat dengan kapan dan dimana.
Lagi-lagi dari contoh di atas saja bisa kita analisi, kalau saja perwakilan dari mahasiwa ekonomi itu mengatakan kalimat-kalimat itu di situasi yang tidak resmi, misalnya dengan teman sejawat, responnya bisa positif. Tapi, kemudian sang penutur tidak sadar bahwa dia ada di sebuah forum besar yang mengharuskannya menggunakan bahasa yang sopan dan pantas.
Sekali lagi ditegaskan bahwa bahasa adalah alat pemersatu kerukunan hidup bukan sebagai pemecah persatuan. Jangan sampai kita mendapatkan boomerang dari bahasa yang kita pakai. Dan disinilah kita bisa memosisikan bahasa Indonesia sebagai pemersatu. Tidak sedikit, akhir-akhir ini, yang lebih senang menggunakan bahasa-bahasa asing yang belum benar-benar diserap menjadi kata baku, tak terkecuali bahasa daerah dan bahasa asing lainnya. Alasan lain bahasa akhirnya menjadi pangkal permasalahn adalah ketika ketika berkomunikasi, satu pihak tidak mengerti dengan apa yang ingin disampaikan karena sang penutur menggunakan bahasa-bahasa asing.
Bahasa Indonesia harus dipahami semua orang Indonesia agar bisa jadi bahasa pengantar dalam berkomunikasi. Jangan sampai ketika kita tercatat sebagai orang ber-KTP Indonesia tapi tidak mengerti bahasa sendiri. Banyak hal perlu dilakukan untuk meningkatkan bahasa Indonesia mejadi satu-satunya bahasa pengantar. Namun, ini tidaklah mudah. Mulai dari penyajian standard, pedoman, fasilitas, dan bimbingan dalam tujuan pengembangan kualitas bahasa Indonesia. Meski tidak mudah bukan berarti hal yang mustahil. Yang paling penting adalah kebanggan kita terhadap bahasa Indonesia itu sendiri.
Salam.
Kamis, Oktober 18, 2012
Aku ingin mengunjungimu malam ini
Malam ini sebenarnya aku ingin mengunjungimu
membawakan sebuah kado berisi kerinduan
yang telah meletup sejak berhari-hari yang lalu
Malam ini sebenarnya aku ingin mengunjungimu
membawakan buah tangan berupa kerinduan
yang menyebar memenuhi seluruh jiwa
menyesakkan
walau kunikmati
Malam ini sebenarnya aku ingin mengunjungimu
membawakan segenggam,
oh bukan lagi segenggam,
kerinduan ini tak bisa lagi kuungkap sebesar apa
Kerinduan ini hanya kurasakan
untukmu seorang
Kepada kau pemilik kata-kata
Kalau boleh dan bisa, beri aku satu kata. Tak usah beribu.
Aku ingin menghancurkan bendungan bendungan di pikiran
yang menghalangi satu kata yang mendesak
Padahal, aku tak mau membual.
kuulangi, hanya satu kata
Ah, masak kau tak percaya.
pernahkah aku berbohong dengan kata?
Aku ingin menghancurkan bendungan bendungan di pikiran
yang menghalangi satu kata yang mendesak
Padahal, aku tak mau membual.
kuulangi, hanya satu kata
Ah, masak kau tak percaya.
pernahkah aku berbohong dengan kata?
Prasangka
Jika teman terdekatmu berubah, tak lagi mau jalan bareng dengan alasan yang macam-macam. Jika pacarmu juga berubah, tak ada waktu untuk sekedar mengucapkan selamat tidur padahal sebulan yang lalu bahkan “teror” sms seperti itu hampir tiap menit memenuhi hapemu. Jika akhirnya kamu tahu malam minggu kemarin pacarmu nggak datang ke rumah seperti biasa tapi justru kamu mendengar dari temanmu yang lain bahwa dia jalan dengan teman dekatmu. Jika akhirnya siang ini kamu melihat sendiri mereka jalan berdua di mall kemudian makan di tempat favoritmu dan pacarmu. Ya, jika itu semua terjadi padamu kamu berhak untuk marah. Kamu juga berhak untuk memutuskan hubungan dengan mereka berdua. Kamu lebih berhak lagi menganggap mereka tak ada. Sama seperti yang kulakukan terhadap pacarku dan teman dekatku. Mereka benar-benar tak tahu diri.
Kamu sudah memimpikan minggu depan akan jadi minggu yang special karena itu adalah lima tahun kami pacaran. Lima tahun. Coba kamu bayangkan. Itu bukan waktu yang singkat. Kalau saja pacarmu mengatakan itu baik-baik, putus baik-baik, maka kamu juga pasti akan merelakannya kan? Tapi, ini lebih menyakitkan. Mereka ada main di belakangmu. Aku sendiri tak habis pikir bagaimana mereka bisa tega melakukan itu padaku. Sungguh, sampai kapanpun kamu pasti takkan memaafkan mereka. Iya kan? Kalau iya berarti kamu sepaham denganku. Sampai kapanpun.

Semua membuatmu malas untuk berangkat kuliah pagi ini karena kamu akan bertemu dengan mereka berdua. Bertatap muka dan pasti akan ada percakapan dengan mereka dan akhirnya kamu memilih untuk datang terlambat ke kampus bahkan tak masuk kelas. Kamu pasti akan bersembunyi dari mereka. Menjauh. Bila perlu urus saja surat kepindahan kuliah. Aku sudah berpikiran sejauh itu. Karena sakit hati
“Eh, Ra, lu nggak masuk kelas. Tadi dicariin sama Andre lho. Katanya mau ngomong penting,” temanmu mengagetkanmu saat kau sedang memikirkan pembalasan buat mereka berdua. Terus, jika seperti itu inikah jawabanmu?
“Andre? Oh, mantan pacar gue itu. Masih punya urusan apa lagi dia?”
“Mantan pacar? Jadi bener kalian udah putus?” omongan temanmu yang bernama Sinta itu justru lebih mengagetkanmu. Tapi, kamu pasti bisa mengatasi keadaan itu. “Iya, beberapa hari yang lalu,” kataku. Katamu juga kan?
“Pantes. Tadi si Andre berangkat bareng sama Aisyah. Denger-denger mereka udah deket.” Apa reaksimu sekarang? Masihkah kamu tenang dengan semua ini? Aisyah, teman dekatmu ternyata tak sebaik penampilannya.
* iqbal_haris *
Apa yang akan kamu lakukan jika semua itu terjadi padamu? Tolong aku. Biar tak salah mengambil tindakan. Kamu mau mencincang mereka hidup-hidup? Setega itukah? Tidak. Kamu pasti bukan orang seperti itu. Apa bedanya dengan mereka.
Kalender di dinding kamarmu menunjukkan angka 23 Desember. Enam tahunmu berpacaran. Seharusnya. Jika dia nggak selingkuh. Saat ini kamu telah siap dengan dandanan seadanya. Dia memang mengajakmu keluar malam ini. Tapi, tadi siang dia mengatakan bahwa ada hal penting yang ingin dia bicarakan. Dan kamu juga pasti shocked ketika dia mengatakan bahwa dia juga mengajak Aisyah. Buat apa? Oke, kalau dia mau mengatakan yang sejujurnya malam ini. Maka, kamu masih memberinya waktu kan? Kamu datang memenuhi undangannya, kamu putusin, dan kamu pergi. Persis. Sama seperti rencanaku.
Di kafe ini, di tempat dimana sering kamu habiskan waktu-waktu bersamanya, hampir tiap malam minggu. Ah, sudahlah. Kamu pasti tegar. Buat apa menyesali semuanya. Toh, dia bukan satu-satunya. Dia saja dengan mudah menggantikanmu di hatinya. Kamu juga pasti bisa.
Dia datang. Dengan Aisyah. Satu mobil. “Maaf, sudah lama. Ayo, langsung masuk aja. Di tempat biasa.” Senyumnya sama. Tidakkah dia berpikir kalau kamu benci dengan senyum palsu itu. Sekarang. Setelah dengan tidak canggung dia lebih memilih menjemput Aisyah bukan kamu yang masih pacarnya. Masih pacarnya.
Akhirnya, kamu tidak bisa basa-basi. Kamu risih melihat dia lebih sibuk dengan Aisyah hingga kalian duduk bertiga di meja itu. “Maaf, jika semua ini mengejutkanmu dan membuatmu marah. Ini sudah lama ingin kukatakan. Tapi, aku belum siap. Aku ingin kamu menjadi istriku. Pacaran tak ada gunanya. Hanya buang-buang waktu. Sekarang aku telah siap untuk jadi imam bagimu.” Kamu linglung. Semuanya terjadi sangat cepat. Aisyah tersenyum simpul kepadamu.
Kamu akhirnya tahu bahwa kejadian sebulan ini adalah skenario Andre. Kamu juga tahu bahwa Aisyah adalah sepupu dia, hal sama yang baru mereka ketahui. Dan kamu juga tahu bahwa sekarang kalian nggak bertiga. Ada Sinta dan teman-temanmu yang lain yang ditugaskan Andre untuk membuat gosip kedekatannya dengan Aisyah. Kamu juga akhirnya tahu kalau semua prasangka salah. Mengapa tak meminta penjelsan dulu sejak awal. Semoga kamu juga bisa belajar sepertiku belajar untuk tak berburuk sangka.
Kamu sudah memimpikan minggu depan akan jadi minggu yang special karena itu adalah lima tahun kami pacaran. Lima tahun. Coba kamu bayangkan. Itu bukan waktu yang singkat. Kalau saja pacarmu mengatakan itu baik-baik, putus baik-baik, maka kamu juga pasti akan merelakannya kan? Tapi, ini lebih menyakitkan. Mereka ada main di belakangmu. Aku sendiri tak habis pikir bagaimana mereka bisa tega melakukan itu padaku. Sungguh, sampai kapanpun kamu pasti takkan memaafkan mereka. Iya kan? Kalau iya berarti kamu sepaham denganku. Sampai kapanpun.

Semua membuatmu malas untuk berangkat kuliah pagi ini karena kamu akan bertemu dengan mereka berdua. Bertatap muka dan pasti akan ada percakapan dengan mereka dan akhirnya kamu memilih untuk datang terlambat ke kampus bahkan tak masuk kelas. Kamu pasti akan bersembunyi dari mereka. Menjauh. Bila perlu urus saja surat kepindahan kuliah. Aku sudah berpikiran sejauh itu. Karena sakit hati
“Eh, Ra, lu nggak masuk kelas. Tadi dicariin sama Andre lho. Katanya mau ngomong penting,” temanmu mengagetkanmu saat kau sedang memikirkan pembalasan buat mereka berdua. Terus, jika seperti itu inikah jawabanmu?
“Andre? Oh, mantan pacar gue itu. Masih punya urusan apa lagi dia?”
“Mantan pacar? Jadi bener kalian udah putus?” omongan temanmu yang bernama Sinta itu justru lebih mengagetkanmu. Tapi, kamu pasti bisa mengatasi keadaan itu. “Iya, beberapa hari yang lalu,” kataku. Katamu juga kan?
“Pantes. Tadi si Andre berangkat bareng sama Aisyah. Denger-denger mereka udah deket.” Apa reaksimu sekarang? Masihkah kamu tenang dengan semua ini? Aisyah, teman dekatmu ternyata tak sebaik penampilannya.
* iqbal_haris *
Apa yang akan kamu lakukan jika semua itu terjadi padamu? Tolong aku. Biar tak salah mengambil tindakan. Kamu mau mencincang mereka hidup-hidup? Setega itukah? Tidak. Kamu pasti bukan orang seperti itu. Apa bedanya dengan mereka.
Kalender di dinding kamarmu menunjukkan angka 23 Desember. Enam tahunmu berpacaran. Seharusnya. Jika dia nggak selingkuh. Saat ini kamu telah siap dengan dandanan seadanya. Dia memang mengajakmu keluar malam ini. Tapi, tadi siang dia mengatakan bahwa ada hal penting yang ingin dia bicarakan. Dan kamu juga pasti shocked ketika dia mengatakan bahwa dia juga mengajak Aisyah. Buat apa? Oke, kalau dia mau mengatakan yang sejujurnya malam ini. Maka, kamu masih memberinya waktu kan? Kamu datang memenuhi undangannya, kamu putusin, dan kamu pergi. Persis. Sama seperti rencanaku.
Di kafe ini, di tempat dimana sering kamu habiskan waktu-waktu bersamanya, hampir tiap malam minggu. Ah, sudahlah. Kamu pasti tegar. Buat apa menyesali semuanya. Toh, dia bukan satu-satunya. Dia saja dengan mudah menggantikanmu di hatinya. Kamu juga pasti bisa.
Dia datang. Dengan Aisyah. Satu mobil. “Maaf, sudah lama. Ayo, langsung masuk aja. Di tempat biasa.” Senyumnya sama. Tidakkah dia berpikir kalau kamu benci dengan senyum palsu itu. Sekarang. Setelah dengan tidak canggung dia lebih memilih menjemput Aisyah bukan kamu yang masih pacarnya. Masih pacarnya.
Akhirnya, kamu tidak bisa basa-basi. Kamu risih melihat dia lebih sibuk dengan Aisyah hingga kalian duduk bertiga di meja itu. “Maaf, jika semua ini mengejutkanmu dan membuatmu marah. Ini sudah lama ingin kukatakan. Tapi, aku belum siap. Aku ingin kamu menjadi istriku. Pacaran tak ada gunanya. Hanya buang-buang waktu. Sekarang aku telah siap untuk jadi imam bagimu.” Kamu linglung. Semuanya terjadi sangat cepat. Aisyah tersenyum simpul kepadamu.
Kamu akhirnya tahu bahwa kejadian sebulan ini adalah skenario Andre. Kamu juga tahu bahwa Aisyah adalah sepupu dia, hal sama yang baru mereka ketahui. Dan kamu juga tahu bahwa sekarang kalian nggak bertiga. Ada Sinta dan teman-temanmu yang lain yang ditugaskan Andre untuk membuat gosip kedekatannya dengan Aisyah. Kamu juga akhirnya tahu kalau semua prasangka salah. Mengapa tak meminta penjelsan dulu sejak awal. Semoga kamu juga bisa belajar sepertiku belajar untuk tak berburuk sangka.
Langganan:
Postingan (Atom)











