Technology

Pages

Sabtu, Agustus 23, 2014

Kiat Sukses Jadi Mahasiswa Baru

Selamat! Buat kalian yang sudah masuk dan menjadi Mahasiswa Baru FBS UNJ. Setelah tiga tahun menjalani hari di masa SMA, teman-teman akhirnya dituntut untuk lebih dewasa dan peka terhadap kondisi sekarang. Nggak boleh lagi 4LaY (lha, sendirinya alay), nggak boleh manja, nggak boleh kebanyakan main, nggak boleh jajan sembarangan (ngaco, maaf). Yang penting sih harus sadar dengan kata "maha" di depan kata "siswa" yang sekarang teman-teman sandang.

Okeh, menjadi maba susah-susah gampang tapi asyik lho. Banyak hal baru yang bisa teman-teman dapat dan banyak hal yang peru dipersiapkan untuk berhasil. Mumpung masih diawal. Inget, kalau sudah semester empat seperti saya atau diatas saya, teman-teman bakal banyak penyesalan mengapa waktu jadi maba nggak bikin target dan persiapan mateng.

Olrait, daripada lama-lama, nih ada kiat-kiat sukses jadi maba. Ini berdasarkan pengalaman pribadi ya:

  1. Harus sering ke kampus. Buat apa? Banyak. Buat lapor diri, buat ngembaliin formulir, dan buat tes kesehatan (hehe. itu kan memang wajib). Sebenarnya "harus sering ke kampus" ini maksudnya cari info sebanyak-banyaknya. Nggak harus ke kampus juga. Yang penting temen-temen nggak ketinggalan info kapan jadwal wawancara dan apa saja dan kapan rangkaian acara MPA (Masa Pengenalan Akademik *ospek).
  1. Banyakin koneksi. Ini yang lebih sangat penting. Buat yang nggak punya teman satu sekolah yang masuk di satu jurusan atau fakultas yang sama, membangun jaringan adalah hal yang utama. Mau tanya apa-apa ke kakak kelas tapi takut, bisa nanya temennya itu. Mau sharing info juga bisa. Mau berangkat bareng monggo. Tapi, jangan mulai buat nyari jodoh dulu. Woi, kuliah dulu. hehe. Pepatah baru yang harus teman-teman tahu, "Banyak teman, banyak rejeki".
  1. Banyak tanya. Jadi pura-pura bego aja (maaf). Sebenarnya udah tahu tapi tanya-tanya aja. Apalagi yang ditanya mau "dimodusin". Waduh, katanya nggak boleh nyari jodoh dulu. Pokoknya, banyak tanya aja kalo bingung dan nggak tahu meski ngapain. Ini berhubungan dengan poin nomer 1.
  1. Ikuti seluruh rangkaian khusus maba. Sekarang kalau boleh, saya pun pengen jadi maba lagi. Apalagi ikut MPA. Jadi, banyak temen, baik dari jurusan sendiri maupun jurusan yang lain, bisa asyik-asyik, punya cerita lucu, kejadian unik, naksir temen (lho, kok lagi?). Mungkin terkesan subjektif ya tapi kalau belum ngerasain memang nggak bisa ngomong kayak gini.
  1. Yang terakhir baru bikin target kuliah. Nih, udah sukses jadi maba jangan sampai nggak sukses jadi mahasiswa. Kuliah itu juga susah-susah gampang. Mulai sekarang harus bikin target. IP harus 4, IPK nggak boleh kurang dari 3.5, nggak ada nilai C, tapi tak perlu punya target lulus cepet. Kenapa? Ada di nomer 6.
  1. Maksud dari nggak perlu lulus cepet adalah kampus adalah gerbang terakhir teman-teman menuju kehidupan sebenarnya. Setelah lulus teman-teman bakal jadi manusia mandiri yang HARUS mandiri dan NGGAK BOLEH bergantung kepada siapapun. Maka, cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Nilai tetap BAGUS tapi yang penting pengalaman. Ini semua bisa didapat kalau teman-teman ikut organisasi. Akademik itu PENTING, tapi organisasi itu PERLU. Di dunia kerja nanti, IP itu cuma sampai seleksi administrasi tapi kemampuan teamwork, pengalaman organisasi, dan kemampuan managemen-lah yang ditanya dan dihargai. Dan, pembelajaran itu nggak didapat di dalam kelas kuliah tapi di organisasi. So, jangan ragu buat ikut organisasi ya. Bukan mahasiswa kalo nggak ikut organisasi. "Buat apa punya ilmu (IP gede), tapi nggak dibagi".


Pintar itu bukan dinilai dari seberapa bagus cetakan angka-angka kita di KHS*. Tapi, seberapa bermanfaat ilmu itu buat sekitar kita.
Itu dulu aja ya. Bersambung nih.

www.duniakataiqbal.blogspot.com


*KHS: Kartu Hasil Study

Rabu, Agustus 20, 2014

Best Friend itu NGGAK ADA!!!

Apa yang membuat saya tak lagi mempercayai adanya 'best friend'? Ini semua karena aku berkaca pada pengalamanku sendiri. Beberapa waktu lalu--tepatnya beberapa tahun yang lalu--aku begitu memuja persahabatan. Aku (masih) percaya ada best friend. Tapi, saat ini semua itu terasa hal yang absurb; klise dan nonsens. Jika teman-teman merasa aku salah maka berikanlah saya bukti bahwa masih ada yang namanya 'best friend'.


Sekali lagi saya katakan bahwa beberapa tahun lalu saya benar-benar percaya akan adanya sahabat terbaik. Kepercayaan yang sebenarnya tiap waktu menipis. Kepercayaan bersanding bersama keraguan apakah aku bakal punya sahabat terbaik.

Akan saya ceritakan alasannya.


Sewaktu kecil dulu aku punya seorang kawan yang bahkan ayahnya kupanggil 'bapak'. Berbagi ayah dengannya karena sewaktu lahir sampai saya berumur kurang lebih 10 tahun saya tidak mengenal seorang ayah. Ayah harus merantau jauh supaya dapur ibuku tetap mengempulkan asap. Aku dengan sahabatku tersebut hampir selalu bersama; bermain gundu, main hujan-hujanan, pergi-pulang sekolah, duduk sebangku, tidur bareng, dan banyak hal-hal lain yang kami lakukan bersamaan. Tapi, itu dulu. Ya, dulu sekali. Semua berubah ketika ternyata makhluk yang bernama 'dewasa' merasuki kami. Kebersamaan kami mulai berkurang sedetik demi sedetik. Kami menjadi TEMAN BIASA. Yang hanya bertegur sapa ketika sewaktu-waktu bertemu. Yang hanya menanyakan kabar sekadar basa-basi belaka. Yang tak pernah lagi bermain bersama, menginap di salah satu rumah dari kami, atau bahkan sekadar berkunjung. Semua menjadi hilang dan lenyap. Ironisnya, saat inipun aku tak tahu nomor teleponnya. Maaf, bukan aku tak mau mencari atau tak mau memilikinya. Tapi itulah. Aku sudah beberapa kali menyimpan nomor kontaknya di hapeku dan beberapa kali pula ia berganti-ganti nomor. Ya, aku tahu bukan karena dia menghindariku dengan bergonta-ganti nomor. Tapi yang pasti, kedekatan kami di masa kecil dulu telah hilang. Tersisa sedikit. Hanya sedikit.


Tiba saat masa SMP. Lagi-lagi aku merasa telah menemukan seorang teman terbaikku. Ya, teman terbaik yang kata orang mendengarkan saat kita mengeluh. Memberikan semangat saat kita terpuruk. Tak menyalahkan kita ketika kita berjalan keluar jalur. Dan bla bla bla lainnya yang menggambarkan tentang sahabat terbaik.


Awalnya. Ya, awalnya memang seperti itu. Kami bersama. Bersenang-senang. Bercanda. Bersenda gurau. Melakukan banyak hal yang sekarang akupun tak lagi ingat satu-satu karena saking banyaknya. Lagi-lagi itu dulu. Saat kami dekat. Saat kami sedang menempuh pendidikan di sekolah yang sama. Saat tiap hari kami pasti bersua. Hingga akhirnya ketika ia lulus dan aku baru naik kelas tiga es-em-pe, persahabatan itu menemui ujungnya. Sama seperti "SAHABAT'ku saat di Sekolah Dasar, saat inipun aku tak mempunyai nomor telepon atau tahu kabarnya. Sama sekali tak tahu. Lagi dan lagi bukan karena aku tak mencari tahu. Tapi, karena kesibukan kami dan banyak hal, termasuk masalah jarak, kebersamaan itu lenyap. Tersisa hanya secuil berupa kenangan dalam memoriku. Sekarang salahkah jika aku tak lagi mempercayai sahabat terbaik? Aku rasa tidak karena ternyata semua itu berlanjut ke masa selanjutnya.

Di sekolah menengah saat aku duduk di tahun pertama, aku bahkan mempunyai tidak hanya satu teman yang kuanggap teman terbaikku. Tiga. Ya, T-I-G-A orang sekaligus. Dua orang kuanggap teman terbaik karena mereka selalu membantuku, menopangku saat aku lemah, menjadi tempat bercerita, dan menjadi teman yang membantuku saat aku tak bisa pulang ke rumah saat aku kesorean dan tak mungkin pulang mengingat rumahku yang jaraknya sangat JAUH dari sekolahku. Sedang seorang lagi kuanggap teman karena ternyata dia menganggapku ada. Ya, tak bisa kupungkiri bahwa manusia pasti butuh eksistensi dan dialah orang yang tak meragukan kemampuanku. Mereka bertiga adalah teman terbaikku (menurutku) saat aku berada di kelas X (sepuluh). Lalu, saat kami harus berpisah kelas. Dua orang menjadi sekelas lagi jurusan yang sama denganku, Ilmu Alam, dan seorang justru masuk ke jurusan Ilmu Sosial. Hah, 'best friend'ku kembali menikmati dunia mereka sendiri. Hubungan itu terpisah karena kami tak lagi dekat (tak lagi bisa berjumpa setiap hari karena beda kelas).


Saat di tahun kedua aku tak bisa menganggap satupun dari teman sekelas sebagai teman terbaikku. Kebersamaan selama setahun tak bisa membuatku mengalungkan predikat best friend kepada salah satu dari mereka. Baru di tahun ketigalah aku berani menganggap beberapa dari mereka best friend-ku. Namun, semua tak berjalan lama. Parahnya, kelas yang katanya kompak pun akhirnya kehilangan 'jin' kekompakan yang (dulu) bersama kami. Itu semua tentu saja karena jarak. Ya, jarak yang memisahkan dan kesibukan yang kami lakoni sekarang masing-masing membuat 'jin' itu 'ter-ruqyah' dengan sendirinya. Pergi.


Hah, begitulah. Aku tak lagi mempunyai 'medali' teman terbaik. Semua yang telah terjadi itulah alasannya. Kalau saya dianggap memilih-milih teman, saya katakan bahwa saya TIDAK pernah memilih-milih orang untuk menjadi teman. Kalau saya dianggap kurang perhatian maka saya BERANI mengatakan kurang care apalagi saya? Saya dengan sahabatku di masa kecil, saya dengan sahabatku di masa SMP, saya dengan ketiga temanku di tahun pertamaku di SMA, saya dan beberapa teman sekelasku di tahun ketigaku di SMA memang tak berperang atau punya masalah atau putus hubungannya. Namun, kami (terlebih saya) merasa kedekatan yang dulu kami bangun langsung luluh-lantak dihancurkan 'gelombang' jarak. Ya, kami tetap berteman tapi berteman BIASA. Tak ada yang istimewa. TAK ADA LAGI BEST FRIEND. Kami adalah cuma TEMAN DEKAT (Teman terbaik saat raga kita memang dekat) bukan dari kedekatan hati. makhluk bernama 'jarak' yang menelanjangi semua itu. Ya, hingga akhirnya aku percaya. Best Friend itu NGGAK ADA. Yang ada hanya teman (ketika jarak--raga) dekat. Itu saja. Maaf.



Rawamangun - Warnet Radja, 23 Februari 2011

Minggu, Agustus 10, 2014

Kecanduan Organisasi

Allright, jika ditanya siapa yang 'menjerumuskan' saya sehingga saya adiksi (kecanduan) organisasi maka jawabannya adalah kakak saya sendiri, Mufid Mas'udi. Dia dengan 'tega' mempengaruhi saya untuk aktif di organisasi dan akhirnya membuat saya tak bisa hidup tanpa berorganisasi.


Awalnya, Ketika saya masih Sekolah Dasar saya hanya mengikuti kegiatan pramuka. Waktu itu kakak saya masih duduk di bangku SMP. Kakak saya suatu hari mulai melancarkan rayuannya. "Besok kalau udah SMP ikut aja Saka Bhayangkara kayak Mas Mufid. Kamu bakal kenal banyak teman dari sekolah-sekolah lain." ucapnya waktu itu. Ya, kakak saya dan beberapa temannya memang tergabung di salah organisasi tinglat kecamatan di tempat saya itu, Saka Bhayangkara--kegiatan yang masih merupakan kegiatan sekelas pramuka yang langsung dibina oleh Polisi Sektor. Oke, saya akan ikut Saka Bhayangkara, ucapku dalam hati.


Belum juga terpenuhi mimpi saya untuk ikut kegiatan tersebut karena saya masih kelas 5 SD, Mas Mufid menularkan (lagi) 'doktrinnya' kepada saya. Kakak saya waktu itu sangat aktif di sebuah organisasi tingkat sekolah sebagai ketuanya, yaitu Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM)--OSIS kalau di sekolah negeri. Karena sayapun akhirnya melihat banyak sekali manfaat yang didapatkan kakak saya, saya tertarik juga.


Duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama di tahun pertama, saya dan beberapa teman terdaftar di Saka Bhayangkara Polsek Sukoharjo. Dengan bergabungnya saya di saka tersebut saya benar-benar mengenal banyak sekali teman dari SMP-SMP yang tersebar di Kecamatn Sukoharjo. Saya seringkali jalan-jalan mewakili sekolah untuk ikut dalam berbagai lomba di bidang kepramukaan.


Di tahun kedua, saya akhirnya bisa menggantikan posisi kakak saya di IRM. Lagi-lagi, banyak sekali saya mendapatkan keuntungan dengan ikut organisasi ini. Tidak hanya kenal dengan orang-orang luar biasa di tingkat kecamatan saja, tapi sudah ke tingkat kebupaten, Bukan bermaksdu untuk membanggakan diri saya sendiri tapi inilah profitnya kita ikut organisasi. Banyak kenalan, banyak channel, dan yang kurasakan banyak sekali bantuan yang saya dapatkan akhirnya. Subhanallah banget.


Oya, 'doktrin' kakak saya tidak berhenti sampai di situ. Ketika saya sedang duduk di bangku SMP tentu saja kakak saya duduk di bangku SMA. Seringkali kakak saya menceritakan kehidupan masa SMA yang ternyata (lagi, lagi, dan lagi-lagi) diceritakannya tentang organisasi.


Saat tiba saya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) saya pun akhirnya terjun di 'beberapa' organisasi. Pramuka masih jadi organisasi yang utama. English Club (EC), Mading, Rohis, Paskibraka, Pramuka, dan OSIS. Waw, saat ini saya pun akhirnya sadar kenapa dulu orang tua saya melarang untuk ikut organisasi. Gila! banyak sekali ya? Kenapa dulu tidak memprioritaskan saja ke satu atau dua oragnisasi saja. Tapi, sekarang saya pun juga menyadari bahwa dengan ikutnya saya di organisasi saya BENAR-BENAR TIDAK RUGI. Ada banyak jejak kaki yang saya buat di SMA saya yang BERGUNA BANGET di kehidupan saya selanjutnya. Pokoknya, nggak mungkin saya dapatkan di ladang lain. Hem, terima kasih saja buat kakakku yang telah 'menjerumusakan' ke tempat yang benar-benar saya rasakan keuntungannya.

***

2002 (saya lupa tepatnya--masa SMP)

Saya mendapatkan sebuah bantuan dari teman saya ketika saya tersesat di sebuah tempat yang ternyata dekat sekali dengan tempat teman saya itu. Benar-benar beruntung saya waktu itu. Kejadiannya benar-benar tak bisa diceritkan tapi yakin pasti teman-teman semua yang pernah ikut organisasi pernah merasakannya.



Kurun waktu 2005-2008 (masa SMA)

Begitulah ketika kita punya banyak kenalan, saat tersesat kita bisamendapatkan tempat tinggal dengan gratis dan sebagainya. Seringkali ketika saya mendapatkan musibah seperti itu tinggal sms dan jemputan pun datang. Masih banyak lagi yang sebenarnya bisa saya ceritakan tapi mungkin lain kali. Ruang ini terlalu terbatas. Capek juga baca note banyak-banyak.


2008-2010 (saat di Pare dan di Batam)

Di Pare, saya menjumpai seorang kawan lama yang dulu pernah saya kenal. Juga lewat media organisasi.

Di batam, mencari kerjaan tentu saja bisa lebih mudah jika banyak kenalan. Ternyata, di Batam pun saya menemukan saudara dari teman saya yang saya kenal di Pare. Wah-wah ternyata sambung-menyambung ya?


2010 (Setelah pengumuman UMB)

UMB mengantarkan saya ke UIN Jakarta. Ya, saat saya hendak daftar ulang, saya tentu butuh tempat untuk menginap dan saya teringat seorang kawan yang kuliah di UIN. SMS, dibalas, dan dapat tempat tinggal gratis.


2010 (Beberapa kali berniat mencari kerja)

Segalanya butuh proses. Proses saya untuk bisa berbicara di depan khalayak umum tentu saya terlatih dari saat awal sayA ikut organisasi. Berniat melamar pekerjaan sebagai pengajar bimbel tentu saja ada Microteaching. Wah, kalau dulu saya tidak ikut organisasi apa jadinya saya untuk sekedar menghadapi Microteaching.


Wah-wah, nggak bakal ada habisnya ketika kita harus cerita keuntungan ikut organisasi. Bakal jadi list yang panjang bahkan bisa jadi berbuku-buku. Tetap semangat untuk YANG ikut organisasi ya! Ingat, LELAH ITU PASTI TAPI SEMANGAT ADALAH PILIHAN.

Rabu, April 23, 2014

UNJ Akan Tanpa Rektor

Ada yang menarik ketika membaca tulisan berjudul “Tiga Kunci Arah Pendidikan Indonesia” yang ditulis oleh Prof. Djaali di harian Media Indonesia edisi Sabtu, 2 Maret 2014. Bukan terkait isi tulisan tersebut. Namun, terhadap status yang tertera di bawah nama penulis. Status yang kemudian dikomentari oleh Prof. DR. Tjipta Lesmana dengan tulisan berjudul “Rektor Tapi Belum Rektor” (Rakyat Merdeka, 3 Maret 2014). Dalam tulisannya, Prof Tjipta mempermasalahkan tentang pelanggaran etika dimana Prof. Djaali menyebut dirinya sebagai rektor Universitas Negeri Jakarta. Padahal, rektor yang sedang menjabat belumlah resmi dilengserkan. Meski pada akhirnya MI kemudian mengklarifikasi bahwa status rektor yang tertulis di bawah nama Prof. Djaali adalah kesalahan redaksi. Terlepas dari masalah di atas, pertanyaan yang kemudian muncul beberapa hari belakangan adalah terkait kapan Prof. Djaali akan resmi menjadi Rektor UNJ. Lebih mudahnya adalah kapan tanggal pasti prosesi pelantikan rektor terpilih kita tersebut. Sudah genap di angka dua bulan lebih sejak Prof. Djaali diumumkan dan dinyatakan menang dalam pemilihan Rektor UNJ periode 2014-2018 pada tanggal 19 Februari 2014 kemarin. Prof. Djaali yang saat itu mengungguli dua kandidat lawannya menang dengan angka tipis. Berbeda lima suara dengan Prof. Ilza Mayuni di urutan kedua dan Dr. Karnadi di urutan ketiga. Hal terkait waktu pelantikan Prof. Djaali sudah seharusnya menjadi konsumsi masyarakat UNJ karena tepat di tanggal 26 April ini SK tentang kepemimpinan Prof. Bedjo sudah berakhir. Lalu, siapa yang akan memimpin kampus ini jika tanpa rektor. Sekadar mengingatkan kita bahwa pemilihan rektor UNJ tahun ini memang melibatkan aspirasi mahasiswa dan dosen dalam penjaringan bakal calon rektor. Diawali dengan pemilihan oleh mahasiswa dan dosen di tinggkat fakultas, kemudian penyaringan nama calon rektor oleh senat fakultas yang kemudian diserahkan ke senat universitas hingga akhirnya terpilihlah tiga calon yang akan menduduki posisi nomor satu di kampus ini. Kondisi ini memang cukup demokratis meski banyak pihak yang menilai bahwa kondisi tersebut adalah pseudodemokrasi. Artinya proses tersebut hanya menjadi kedok semata. Yang terjadi sebenarnya adalah nama – nama calon rektor atau bahkan rektornya sendiri sudah ada dan terpilih. Malah beberapa hari sebelum pemilihan rektor sebuah akun facebook “Suara Rektor” sudah merilis foto Prof. Djaali sebagai rektor terpilih. Kini rektor terpilih kampus ini sudah ada. Proses panjang yang akhirnya menelurkan nama Prof. Djaali sudah selesai. Namun, sepertinya UNJ akan tanpa rektor setelah tanggal 26 nanti. Pihak rektorat, seperti yang disampaikan Bapak Fakhrudin Arbah selaku Pembantu Rektor III kepada Reza Indrawan, menyatakan bahwa kepastian tanggal pelantikan rektor terpilih belum ada. Ibarat seorang nakhoda dalam proses pelayaran sebuah kapal, UNJ akan terombang ambing di tengah laut jika pemimpin tertinggi kampus ini tidak ada. (El Kharis/kominfo)

Senin, April 21, 2014

Mengisi Kekosongan

Pernahkah engkau merasa engkau hanya sebagai boneka? Artinya, bahwa keberadaanmu hanya untuk melengkapi atau mengisi kekosongan?Pernah? Aku sendiri pernah. Baru tersadar lebih tepatnya. Karena akhirnya keberadaanku tak meninggalkan apa-apa. Sekali lagi bahwa aku baru menyadarinya.

Terkadang, kita sudah berdarah-darah, mengorbankan banyak hal namun akhirnya kekecewaan yang kita dapatkan. Terkadang kita hanya melakukan usaha yang sangat kecil namun akhirnya kepuasan yang kita hasilkan.

Setelah lama berpikir mungkin karena kita memulai semua itu tanpa keikhlasan. Tanpa niat yang baik di awal hingga akhirnya kita kecewa dan tidak puas.

Selasa, Desember 24, 2013

Mewarnai Pelangi




Prolog
Bukankah hujan menjanjikan pelangi di setiap akhir tetesannya? Aku selalu meyakini hal itu. Akan ada kisah yang manis setelah narasi penuh duka, akan ada tawa setelah tangis mendera, begitu juga kebahagiaan akan menggantikan kesedihan yang kita rasa. Percayalah. Itu bukan sekadar teori belaka. Hari ini. Seperti yang kurasa. Di hari terakhir keberadaanku di sekolah ini.
Aku kembali mengecek lelembaran kertas di meja. Berkas-berkas yang harus ditandatangani sudah rampung. Tinggal memasukkannya bersama berkas-berkas lain dalam satu map. Dan ceritaku di sekolah ini juga selesai.
Ah, menyesakkan sekali.
Melakukannya sama seperti memasukkan kisah yang terjadi beberapa bulan ke belakang ke dalam sebuah kotak berkunci. Hari-hari menjanjikan kebahagiaan saat aku menggambar pelangi dan mewarnainya. Saat aku bersama mereka melewatkan hari. Saat aku menjadi sosok yang mereka turuti. Saat sama-sama merajut mimpi untuk kemudian hari.
“………”
“Rizky Al-Muhammady”
“Panggilannnya Gaston, Sir.”
“Gaston? Terus Julia Perez-nya siapa?”
“Adanya Juliet, Sir.”
“……”

“Sir, jadi present tense itu pake verb 1, kan?
“Iya, Juned.”
“……”

“Insya Allah besok sabtu LDK Rohis. Sekalian pemilihan ketua Rohis.”
“Ente calon juga, Rifky?”
“Sepertinya iya, Sir.”
“….”

“Sir, udah nggak ngajar lagi?”
“Iya, ini minggu terakhir. Tinggal ngurus sedikit berkas aja. Tania, ini edisi Jumat atau memang Tania benar-benar berjilbab?”
“Doakan saja, Sir.”
“Semoga istiqomah ya.”
“Amiin.” Jawab Tania.
“Sir, ngajar terus di sini aja,” sela Gaston.
“Maunya sih gitu.”
“……………”

Dan semua ini ternyata harus segera diakhiri.
***
Bal, kita sekelompok.
Bareng Yesy sama Shintia
Kita dapet di SMP 74 deket kampus B
Pengirim: DB Sigit
+62896534xxxx

Alhamdulillah
Deket kalo gitu.

Terkirim.

Katanya senin kita harus ke sekolah tempat kita PKM.
Jam 7 pagi ya. Ketemuan di sana aja.

Olrait. See ya.
           
         Sempurna. Doaku diijabah. Dijawab. Aku yang meminta semoga tempat PKM-ku dekat dengan kampus ternyata benar-benar dikabulkan. Tidak perlu motor atau naik angkot. Toh, kampus B bisa dicapai dengan berjalan kaki.
          Awalnya. Sesaat setelah menerima SMS dari Sigit itu, aku—dan mungkin—ketiga temanku nggak berpikir bahwa Allah ternyata lebih tahu mana yang terbaik.
            Ya, terbaik menurut kita bukan hal yang mungkin bukan yang terbaik menurutNya. Kenyataan pahit yang sebenarnya harus kami hadapi ada di hari kami menunaikan janji.
            “Lumayan banget. Nggak perlu ngongkos,” kataku saat memasuki gerbang SMP 74.
            “Yah, elu mah enak. Kalo gua ama Sigit ya sama aja. Bekasi booo,” Yesy kecewa.
            “Yang penting deket sama kampus. Kan kita masih punya mata kuliah yang lain,” Shintia menimpali. “Eh, itu Pak Lasito, dosen pembimbing kita,” lanjut Shintia yang melihat Pak Lasito turun dari halte Transjakarta.
            “Oke, udah komplit, kan? Ayok kita masuk!” Perintah Pak Lasito begitu tiba di depan kami.
***
            “Maaf, Pak. Bukan kami menolak. Tapi, guru PPL di sini sudah terlalu banyak. Kemarin yang dari jurusan Matematika saja kami nggak terima.”
            “Intinya ditolak kan, Pak?” tanya Pak Lasito.
            “Mungkin. Tapi, kami memang nggak bisa menerima guru PPL banyak-banyak.” lanjut Wakil Kepala Sekolah 74 berperawakan gendut pendek. “guru sekolah kami sudah cukup mumpuni juga. Repot kalo harus ngurusin mahasiswa yang mau belajar ngajar.” Senyum angkuh tersungging di wajahnya.
            “Ok. Baiklah, Pak. Maaf jika kedatangan kami merepotkan,” sampai saat ini Pak Lasito yang memegang kendali dibandingkan kami. Beliau yang lebih banyak bicara. “Kami pamit kalo begitu.”
            “Mari saya antar.” pinta sang bapak berumur kira-kira lima puluhan tahun di depan kami. “Tidak usah, Pak. Kami masih cukup mumpuni untuk sekadar jalan kaki keluar dari sekolah ini. Nggak mungkin tersesat. Selamat pagi.”
            Kecewa. Pasti. Terutama aku. Yang terlalu pede menganggap doaku dikabulkan. Kenyataan yang kami hadapi jelas bahwa aku dan ketiga temanku benar-benar tersesat. Belum tahu dimana tempat kami menerapkan kemampuan mengajar kami.
            “Gini aja. Kalian mau nggak ngajar di sekolah yang dulu bapak ajar.” Pak Lasito langsung membuka obrolan begitu kami keluar dari gerbang 74. Kami berempat saling berpandangan.
            “Dimana, Pak?” Yesy berinisiasi.
            “Di daerah deket Pedongkelan. Agak jauh sih emang kalo kalian jalan.”
            “Pokoknya di komplek TNI AL. Daerah Sunter.”
            “Lha, bapak gimana? Katanya tadi deket Pedongkelan?” sungut Sigit. Dia paling tidak suka dengan orang yang plin-plan.
            “Pokoknya di situ. Denger-denger lagi butuh guru. Siapa tahu kalian dibayar juga.” Iming-iming dari Pak Lasito.
            “Ya udah di sekolah mana, Pak?” kejar Shintia, cewek berjilbab yang nggak suka bertele-tele.
            “Jadi mau nih?” ulur Pak Lasito.
            “Oke, oke, maaf,” kata Pak Lasito yang melihat muka kami langsung bĂȘte, “Di SMA 72 Jakarta.”

Bersambung

Selasa, Desember 03, 2013

Me 'n Gozzan

Entahlah. Aku sendiri nggak tahu apa alasannya dan bagaimana hingga ia lebih dekat denganku. Awalnya, tak ada yang istimewa. Aku tak merasa dekat. Seperti ke anak-anak yang lain. Biasa. Namun, sekarang aku merasakan ia menyukaiku. Entah karena apa? Aku sendiri bingung. Dan akhirnya aku pun sangat menyayanginya. Lebih dari anak-anak itu.

Namanya Gozzan. Sampai saat ini aku tak tahu nama panjangnya. Dia adalah salah satu murid Comdev (Community Development) FBS, sekolah gratis untuk anak-anak daerah Pura Bali di belakang kampusku. Setiap orang akan gemes begitu melihat tubuhnya yang sangat “sehat” dibandingkan anak-anak yang lain. Tubuhnya bulat sempurna saking sehatnya. Rambutnya ikal dan agak sedikit panjang yang menyamarkan jenis kelaminnya karena maklum, masih anak-anak. Belum begitu jelas apakah dia perempuan atau laki-laki. Semua yang baru mengenalnya akan menanyakan, “dia cowok apa cewek?” Begitulah. Seorang anak yang punya daya tarik dari tubuhnya yang super besar ternyata “menyayangi” dan “mencintai-ku” dengan caranya. (semoga bukan perasaanku saja).

Gozzan. Seperti yang kubilang tadi. Awalnya, aku menganggap dia biasa-biasa aja. Nothing special. Hingga akhirnya aku menyayanginya. Sangat menyayanginya. Aku ingat pertama kali rasa itu tumbuh. Saat itu setelah bagi raport Comdev, Pengurus memutuskan untuk mengadakan outing-class di Ragunan. Kemudian keluar dari lisannya penuh ketulusan, “Pak Iqbal ikut gak? Kalo nggak ikut Gozzan nggak ikut”. Kemudian kukatakan padanya bahwa aku akan menyusul rombongan karena ada yang harus kukerjakan dan akhirnya senyum dari bibirnya terkembang.

Kemudian di liburan selanjutnya, saat jalan-jalan Comdev ke TMII dia menanyakan hal yang sama apakah aku akan ikut jalan-jalan atau nggak? Aku, saat itu, menjawab langsung pertanyaannya dengan anggukan tegas dan aku semakin terharu ketika di hari H saat akan berangkat jalan-jalan dia memberikanku beberapa bungkus makanan kecil yang sengaja dia bawa dari rumahnya. “Ini untuk pak Iqbal”. Lucunya, dia menolak memberikannya pada guru yang lain. Tidak juga pada Nadya dan Ardy (weks!!! :P)

Gozzan. Aku tak pernah memperlakukannya secara khusus. Aku memang terkadang gemes melihat pipi chubby-nya (hal sama yang pasti dilakukan semua orang saat melihatnya). Namun, setiap kali aku dating untuk sekedar melihat proses belajar mengajar Comdev, dia langsung tersenyum penuh makna ke arahku bahkan langsung memelukku.

Kata teman sekelas sekaligus guru Comdev, Nadya, anak kecil itu tak pernah bohong dan aku percaya rasa sayang Gozzan kepadaku juga bukan sebuah kebohongan. Rasa sayang yang ternyata mengalahkan cintanya pada Bu Nadya, Bu guru yang justru lebih banyak mencurahkan waktu dan pikirannya untuk Comdev. Dan ternyata rasa itu nggak hilang bahkan ketika setahun lebih aku jarang sekali bertemu dengannya karena tak lagi berurusan dengan Comdev. Amanah di  BEMJ yang menuntutku untuk nggak lagi terlibat di Comdev tak membuat Gozzan melupakanku. Hingga ketika liburan Comdev semester ini, saat outing-class di Museum Satri Mandala, lagi-lagi dia menunjukkan rasa cintanya padaku.
“Pak Iqbal. Sini! Makan bareng Gozzan.”

*Aku menyayangimu seperti engkau menyayangiku. Tulus setulus engkau mencintaiku. Terima kasih telah membuatku merasa bahwa aku berarti.