Rabu, April 23, 2014
UNJ Akan Tanpa Rektor
Ada yang menarik ketika membaca tulisan berjudul “Tiga Kunci Arah Pendidikan Indonesia” yang ditulis oleh Prof. Djaali di harian Media Indonesia edisi Sabtu, 2 Maret 2014. Bukan terkait isi tulisan tersebut. Namun, terhadap status yang tertera di bawah nama penulis. Status yang kemudian dikomentari oleh Prof. DR. Tjipta Lesmana dengan tulisan berjudul “Rektor Tapi Belum Rektor” (Rakyat Merdeka, 3 Maret 2014).
Dalam tulisannya, Prof Tjipta mempermasalahkan tentang pelanggaran etika dimana Prof. Djaali menyebut dirinya sebagai rektor Universitas Negeri Jakarta. Padahal, rektor yang sedang menjabat belumlah resmi dilengserkan. Meski pada akhirnya MI kemudian mengklarifikasi bahwa status rektor yang tertulis di bawah nama Prof. Djaali adalah kesalahan redaksi.
Terlepas dari masalah di atas, pertanyaan yang kemudian muncul beberapa hari belakangan adalah terkait kapan Prof. Djaali akan resmi menjadi Rektor UNJ. Lebih mudahnya adalah kapan tanggal pasti prosesi pelantikan rektor terpilih kita tersebut. Sudah genap di angka dua bulan lebih sejak Prof. Djaali diumumkan dan dinyatakan menang dalam pemilihan Rektor UNJ periode 2014-2018 pada tanggal 19 Februari 2014 kemarin. Prof. Djaali yang saat itu mengungguli dua kandidat lawannya menang dengan angka tipis. Berbeda lima suara dengan Prof. Ilza Mayuni di urutan kedua dan Dr. Karnadi di urutan ketiga. Hal terkait waktu pelantikan Prof. Djaali sudah seharusnya menjadi konsumsi masyarakat UNJ karena tepat di tanggal 26 April ini SK tentang kepemimpinan Prof. Bedjo sudah berakhir. Lalu, siapa yang akan memimpin kampus ini jika tanpa rektor.
Sekadar mengingatkan kita bahwa pemilihan rektor UNJ tahun ini memang melibatkan aspirasi mahasiswa dan dosen dalam penjaringan bakal calon rektor. Diawali dengan pemilihan oleh mahasiswa dan dosen di tinggkat fakultas, kemudian penyaringan nama calon rektor oleh senat fakultas yang kemudian diserahkan ke senat universitas hingga akhirnya terpilihlah tiga calon yang akan menduduki posisi nomor satu di kampus ini. Kondisi ini memang cukup demokratis meski banyak pihak yang menilai bahwa kondisi tersebut adalah pseudodemokrasi. Artinya proses tersebut hanya menjadi kedok semata. Yang terjadi sebenarnya adalah nama – nama calon rektor atau bahkan rektornya sendiri sudah ada dan terpilih. Malah beberapa hari sebelum pemilihan rektor sebuah akun facebook “Suara Rektor” sudah merilis foto Prof. Djaali sebagai rektor terpilih.
Kini rektor terpilih kampus ini sudah ada. Proses panjang yang akhirnya menelurkan nama Prof. Djaali sudah selesai. Namun, sepertinya UNJ akan tanpa rektor setelah tanggal 26 nanti. Pihak rektorat, seperti yang disampaikan Bapak Fakhrudin Arbah selaku Pembantu Rektor III kepada Reza Indrawan, menyatakan bahwa kepastian tanggal pelantikan rektor terpilih belum ada. Ibarat seorang nakhoda dalam proses pelayaran sebuah kapal, UNJ akan terombang ambing di tengah laut jika pemimpin tertinggi kampus ini tidak ada. (El Kharis/kominfo)
Senin, April 21, 2014
Mengisi Kekosongan
Pernahkah engkau merasa engkau hanya sebagai boneka? Artinya, bahwa keberadaanmu hanya untuk melengkapi atau mengisi kekosongan?Pernah? Aku sendiri pernah. Baru tersadar lebih tepatnya. Karena akhirnya keberadaanku tak meninggalkan apa-apa. Sekali lagi bahwa aku baru menyadarinya.
Terkadang, kita sudah berdarah-darah, mengorbankan banyak hal namun akhirnya kekecewaan yang kita dapatkan. Terkadang kita hanya melakukan usaha yang sangat kecil namun akhirnya kepuasan yang kita hasilkan.
Setelah lama berpikir mungkin karena kita memulai semua itu tanpa keikhlasan. Tanpa niat yang baik di awal hingga akhirnya kita kecewa dan tidak puas.
Terkadang, kita sudah berdarah-darah, mengorbankan banyak hal namun akhirnya kekecewaan yang kita dapatkan. Terkadang kita hanya melakukan usaha yang sangat kecil namun akhirnya kepuasan yang kita hasilkan.
Setelah lama berpikir mungkin karena kita memulai semua itu tanpa keikhlasan. Tanpa niat yang baik di awal hingga akhirnya kita kecewa dan tidak puas.
Selasa, Desember 24, 2013
Mewarnai Pelangi
Prolog
Bukankah
hujan menjanjikan pelangi di setiap akhir tetesannya? Aku selalu meyakini hal
itu. Akan ada kisah yang manis setelah narasi penuh duka, akan ada tawa setelah
tangis mendera, begitu juga kebahagiaan akan menggantikan kesedihan yang kita
rasa. Percayalah. Itu bukan sekadar teori belaka. Hari ini. Seperti yang
kurasa. Di hari terakhir keberadaanku di sekolah ini.
Aku
kembali mengecek lelembaran kertas di meja. Berkas-berkas yang harus
ditandatangani sudah rampung. Tinggal memasukkannya bersama berkas-berkas lain
dalam satu map. Dan ceritaku di sekolah ini juga selesai.
Ah,
menyesakkan sekali.
Melakukannya
sama seperti memasukkan kisah yang terjadi beberapa bulan ke belakang ke dalam
sebuah kotak berkunci. Hari-hari menjanjikan kebahagiaan saat aku menggambar
pelangi dan mewarnainya. Saat aku bersama mereka melewatkan hari. Saat aku menjadi
sosok yang mereka turuti. Saat sama-sama merajut mimpi untuk kemudian hari.
“………”
“Rizky Al-Muhammady”
“Panggilannnya Gaston, Sir.”
“Gaston? Terus Julia Perez-nya
siapa?”
“Adanya Juliet, Sir.”
“……”
“Sir, jadi present tense itu pake
verb 1, kan?
“Iya, Juned.”
“……”
“Insya Allah besok sabtu LDK Rohis.
Sekalian pemilihan ketua Rohis.”
“Ente calon juga, Rifky?”
“Sepertinya iya, Sir.”
“….”
“Sir, udah nggak ngajar lagi?”
“Iya, ini minggu terakhir. Tinggal
ngurus sedikit berkas aja. Tania, ini edisi Jumat atau memang Tania benar-benar
berjilbab?”
“Doakan saja, Sir.”
“Semoga istiqomah ya.”
“Amiin.” Jawab Tania.
“Sir, ngajar terus di sini aja,”
sela Gaston.
“Maunya sih gitu.”
“……………”
Dan
semua ini ternyata harus segera diakhiri.
***
Bal, kita
sekelompok.
Bareng Yesy sama
Shintia
Kita dapet di SMP 74 deket kampus B
Pengirim:
DB Sigit
+62896534xxxx
Alhamdulillah
Deket kalo gitu.
Terkirim.
Katanya senin
kita harus ke sekolah tempat kita PKM.
Jam
7 pagi ya. Ketemuan di sana aja.
Olrait. See ya.
Sempurna. Doaku diijabah. Dijawab.
Aku yang meminta semoga tempat PKM-ku dekat dengan kampus ternyata benar-benar
dikabulkan. Tidak perlu motor atau naik angkot. Toh, kampus B bisa dicapai
dengan berjalan kaki.
Awalnya.
Sesaat setelah menerima SMS dari Sigit itu, aku—dan mungkin—ketiga temanku
nggak berpikir bahwa Allah ternyata lebih tahu mana yang terbaik.
Ya, terbaik menurut kita bukan hal
yang mungkin bukan yang terbaik
menurutNya. Kenyataan pahit yang sebenarnya harus kami hadapi ada di hari kami
menunaikan janji.
“Lumayan banget. Nggak perlu
ngongkos,” kataku saat memasuki gerbang SMP 74.
“Yah, elu mah enak. Kalo gua ama
Sigit ya sama aja. Bekasi booo,” Yesy kecewa.
“Yang penting deket sama kampus. Kan
kita masih punya mata kuliah yang lain,” Shintia menimpali. “Eh, itu Pak
Lasito, dosen pembimbing kita,” lanjut Shintia yang melihat Pak Lasito turun
dari halte Transjakarta.
“Oke, udah komplit, kan? Ayok kita
masuk!” Perintah Pak Lasito begitu tiba di depan kami.
***
“Maaf, Pak. Bukan kami menolak. Tapi, guru PPL di sini
sudah terlalu banyak. Kemarin yang dari jurusan Matematika saja kami nggak
terima.”
“Intinya ditolak kan, Pak?” tanya Pak Lasito.
“Mungkin. Tapi, kami memang nggak bisa menerima guru PPL
banyak-banyak.” lanjut Wakil Kepala Sekolah 74 berperawakan gendut pendek.
“guru sekolah kami sudah cukup mumpuni
juga. Repot kalo harus ngurusin mahasiswa yang mau belajar ngajar.” Senyum
angkuh tersungging di wajahnya.
“Ok. Baiklah, Pak. Maaf jika kedatangan kami merepotkan,”
sampai saat ini Pak Lasito yang memegang kendali dibandingkan kami. Beliau yang
lebih banyak bicara. “Kami pamit kalo begitu.”
“Mari saya antar.” pinta sang bapak berumur kira-kira
lima puluhan tahun di depan kami. “Tidak usah, Pak. Kami masih cukup mumpuni untuk sekadar jalan kaki keluar
dari sekolah ini. Nggak mungkin tersesat. Selamat pagi.”
Kecewa. Pasti. Terutama aku. Yang
terlalu pede menganggap doaku dikabulkan. Kenyataan yang kami hadapi jelas
bahwa aku dan ketiga temanku benar-benar tersesat.
Belum tahu dimana tempat kami menerapkan kemampuan mengajar kami.
“Gini aja. Kalian mau nggak ngajar
di sekolah yang dulu bapak ajar.” Pak Lasito langsung membuka obrolan begitu
kami keluar dari gerbang 74. Kami berempat saling berpandangan.
“Dimana, Pak?” Yesy berinisiasi.
“Di daerah deket Pedongkelan. Agak
jauh sih emang kalo kalian jalan.”
“Pokoknya di komplek TNI AL. Daerah
Sunter.”
“Lha, bapak gimana? Katanya tadi
deket Pedongkelan?” sungut Sigit. Dia paling tidak suka dengan orang yang
plin-plan.
“Pokoknya di situ. Denger-denger
lagi butuh guru. Siapa tahu kalian dibayar juga.” Iming-iming dari Pak Lasito.
“Ya udah di sekolah mana, Pak?”
kejar Shintia, cewek berjilbab yang nggak suka bertele-tele.
“Jadi mau nih?” ulur Pak Lasito.
“Oke, oke, maaf,” kata Pak Lasito
yang melihat muka kami langsung bête, “Di SMA 72 Jakarta.”
Bersambung
Selasa, Desember 03, 2013
Me 'n Gozzan
Entahlah. Aku sendiri nggak tahu apa alasannya dan bagaimana hingga ia lebih dekat denganku. Awalnya, tak ada yang istimewa. Aku tak merasa dekat. Seperti ke anak-anak yang lain. Biasa. Namun, sekarang aku merasakan ia menyukaiku. Entah karena apa? Aku sendiri bingung. Dan akhirnya aku pun sangat menyayanginya. Lebih dari anak-anak itu.
Namanya Gozzan. Sampai saat ini aku tak tahu nama panjangnya. Dia adalah salah satu murid Comdev (Community Development) FBS, sekolah gratis untuk anak-anak daerah Pura Bali di belakang kampusku. Setiap orang akan gemes begitu melihat tubuhnya yang sangat “sehat” dibandingkan anak-anak yang lain. Tubuhnya bulat sempurna saking sehatnya. Rambutnya ikal dan agak sedikit panjang yang menyamarkan jenis kelaminnya karena maklum, masih anak-anak. Belum begitu jelas apakah dia perempuan atau laki-laki. Semua yang baru mengenalnya akan menanyakan, “dia cowok apa cewek?” Begitulah. Seorang anak yang punya daya tarik dari tubuhnya yang super besar ternyata “menyayangi” dan “mencintai-ku” dengan caranya. (semoga bukan perasaanku saja).
Gozzan. Seperti yang kubilang tadi. Awalnya, aku menganggap dia biasa-biasa aja. Nothing special. Hingga akhirnya aku menyayanginya. Sangat menyayanginya. Aku ingat pertama kali rasa itu tumbuh. Saat itu setelah bagi raport Comdev, Pengurus memutuskan untuk mengadakan outing-class di Ragunan. Kemudian keluar dari lisannya penuh ketulusan, “Pak Iqbal ikut gak? Kalo nggak ikut Gozzan nggak ikut”. Kemudian kukatakan padanya bahwa aku akan menyusul rombongan karena ada yang harus kukerjakan dan akhirnya senyum dari bibirnya terkembang.

Kemudian di liburan selanjutnya, saat jalan-jalan Comdev ke TMII dia menanyakan hal yang sama apakah aku akan ikut jalan-jalan atau nggak? Aku, saat itu, menjawab langsung pertanyaannya dengan anggukan tegas dan aku semakin terharu ketika di hari H saat akan berangkat jalan-jalan dia memberikanku beberapa bungkus makanan kecil yang sengaja dia bawa dari rumahnya. “Ini untuk pak Iqbal”. Lucunya, dia menolak memberikannya pada guru yang lain. Tidak juga pada Nadya dan Ardy (weks!!! :P)
Gozzan. Aku tak pernah memperlakukannya secara khusus. Aku memang terkadang gemes melihat pipi chubby-nya (hal sama yang pasti dilakukan semua orang saat melihatnya). Namun, setiap kali aku dating untuk sekedar melihat proses belajar mengajar Comdev, dia langsung tersenyum penuh makna ke arahku bahkan langsung memelukku.
Kata teman sekelas sekaligus guru Comdev, Nadya, anak kecil itu tak pernah bohong dan aku percaya rasa sayang Gozzan kepadaku juga bukan sebuah kebohongan. Rasa sayang yang ternyata mengalahkan cintanya pada Bu Nadya, Bu guru yang justru lebih banyak mencurahkan waktu dan pikirannya untuk Comdev. Dan ternyata rasa itu nggak hilang bahkan ketika setahun lebih aku jarang sekali bertemu dengannya karena tak lagi berurusan dengan Comdev. Amanah di BEMJ yang menuntutku untuk nggak lagi terlibat di Comdev tak membuat Gozzan melupakanku. Hingga ketika liburan Comdev semester ini, saat outing-class di Museum Satri Mandala, lagi-lagi dia menunjukkan rasa cintanya padaku.
“Pak Iqbal. Sini! Makan bareng Gozzan.”

*Aku menyayangimu seperti engkau menyayangiku. Tulus setulus engkau mencintaiku. Terima kasih telah membuatku merasa bahwa aku berarti.
Namanya Gozzan. Sampai saat ini aku tak tahu nama panjangnya. Dia adalah salah satu murid Comdev (Community Development) FBS, sekolah gratis untuk anak-anak daerah Pura Bali di belakang kampusku. Setiap orang akan gemes begitu melihat tubuhnya yang sangat “sehat” dibandingkan anak-anak yang lain. Tubuhnya bulat sempurna saking sehatnya. Rambutnya ikal dan agak sedikit panjang yang menyamarkan jenis kelaminnya karena maklum, masih anak-anak. Belum begitu jelas apakah dia perempuan atau laki-laki. Semua yang baru mengenalnya akan menanyakan, “dia cowok apa cewek?” Begitulah. Seorang anak yang punya daya tarik dari tubuhnya yang super besar ternyata “menyayangi” dan “mencintai-ku” dengan caranya. (semoga bukan perasaanku saja).
Gozzan. Seperti yang kubilang tadi. Awalnya, aku menganggap dia biasa-biasa aja. Nothing special. Hingga akhirnya aku menyayanginya. Sangat menyayanginya. Aku ingat pertama kali rasa itu tumbuh. Saat itu setelah bagi raport Comdev, Pengurus memutuskan untuk mengadakan outing-class di Ragunan. Kemudian keluar dari lisannya penuh ketulusan, “Pak Iqbal ikut gak? Kalo nggak ikut Gozzan nggak ikut”. Kemudian kukatakan padanya bahwa aku akan menyusul rombongan karena ada yang harus kukerjakan dan akhirnya senyum dari bibirnya terkembang.

Kemudian di liburan selanjutnya, saat jalan-jalan Comdev ke TMII dia menanyakan hal yang sama apakah aku akan ikut jalan-jalan atau nggak? Aku, saat itu, menjawab langsung pertanyaannya dengan anggukan tegas dan aku semakin terharu ketika di hari H saat akan berangkat jalan-jalan dia memberikanku beberapa bungkus makanan kecil yang sengaja dia bawa dari rumahnya. “Ini untuk pak Iqbal”. Lucunya, dia menolak memberikannya pada guru yang lain. Tidak juga pada Nadya dan Ardy (weks!!! :P)
Gozzan. Aku tak pernah memperlakukannya secara khusus. Aku memang terkadang gemes melihat pipi chubby-nya (hal sama yang pasti dilakukan semua orang saat melihatnya). Namun, setiap kali aku dating untuk sekedar melihat proses belajar mengajar Comdev, dia langsung tersenyum penuh makna ke arahku bahkan langsung memelukku.
Kata teman sekelas sekaligus guru Comdev, Nadya, anak kecil itu tak pernah bohong dan aku percaya rasa sayang Gozzan kepadaku juga bukan sebuah kebohongan. Rasa sayang yang ternyata mengalahkan cintanya pada Bu Nadya, Bu guru yang justru lebih banyak mencurahkan waktu dan pikirannya untuk Comdev. Dan ternyata rasa itu nggak hilang bahkan ketika setahun lebih aku jarang sekali bertemu dengannya karena tak lagi berurusan dengan Comdev. Amanah di BEMJ yang menuntutku untuk nggak lagi terlibat di Comdev tak membuat Gozzan melupakanku. Hingga ketika liburan Comdev semester ini, saat outing-class di Museum Satri Mandala, lagi-lagi dia menunjukkan rasa cintanya padaku.
“Pak Iqbal. Sini! Makan bareng Gozzan.”

*Aku menyayangimu seperti engkau menyayangiku. Tulus setulus engkau mencintaiku. Terima kasih telah membuatku merasa bahwa aku berarti.
Senin, November 25, 2013
Catatan Akhir Sekolah; Sebagai guru PPL
Entah harus bersyukur atau bersedih. Toh, mengajar anak-anak SMA dengan kondisi real di sekolah ternyata menyenangkan. Iya kan? Ini buat yang PKM (baca: PPL). Mengajar mereka yang menjadi beban dan tanggungan kita para calon guru memang menyenangkan.
Es-em-a 72 Jakarta menjadi potongan kisah yang tak terlupa. Meski awalnya malas-malasan karena harus dibarengi dengan jadwal kuliah yang masih (agak) padat, pada akhirnya ada rasa yang tertinggal juga. Apalagi ketika terkenang sebuah kelas yang begitu ramah dan menyambutku dengan baik. Menghormatiku sebagai seorang guru yang meski masih banyak kurangnya tapi mereka memberikan penghargaan yang luar biasa, XI.IPA.1.
Hari ini ujian PKM. Tapi, beruntung hari ini bukan hari terakhir di sekolah. Kenyataan bahwa salah satu guru bahasa Inggris di SMA ini harus meninggalkan kewajibannya mengajar karena sang suami yang sedang sakit membuatku kami harus "angkat kaki" dari sekolah ini tepat sebelum UAS. Okeh, itu kabar baik. Karena masih ada waktu buat kami (Sigit, Shintia, dan Yesy) menorehkan beberapa kisah lagi.
SMA 72 Jakarta, dengan sambutan luar biasa dari para gurunya membuat kami enggan untuk bersegera "kabur" dari sini. Terlepas dari pikiran bahwa kita menjadi "ban serep" beberapa guru tapi ketika kita menjalaninya dengan senang hati hal yang terlihat berat jadi tak terasa.
Hari ini ujian PKM. Hari ini bukan perpisahan. Meski waktu untuk itu tentu semakin mendekat.
Hari ini ujian PKM. Hari ini aku menyadari bahwa mengajar dengan cinta jauh lebih menyenangkan dibanding mengajar karen profesi, yang berujung pada tujuan finansial. Terngiang nasihat seorang kawan tadi pagi saat dia memberikan kultum selepas shalat shubuh, "Mengajarlah dengan keikhlasan untuk Allah. Memberika yang terbaik kepada murid-murid kita karena kita mengharapkan perbaikan dari mereka. Memberikan contoh. Dan memberikan sentuhan cinta di setiap kata yang terlontar dari lisan-lisan kita. Yakinlah, menanam ilmu akan menghasilkan ilmu yang jauh lebih besar."
"Pengalaman adalah guru terbaik. Dan guru terbaik lahir dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ)"
Es-em-a 72 Jakarta menjadi potongan kisah yang tak terlupa. Meski awalnya malas-malasan karena harus dibarengi dengan jadwal kuliah yang masih (agak) padat, pada akhirnya ada rasa yang tertinggal juga. Apalagi ketika terkenang sebuah kelas yang begitu ramah dan menyambutku dengan baik. Menghormatiku sebagai seorang guru yang meski masih banyak kurangnya tapi mereka memberikan penghargaan yang luar biasa, XI.IPA.1.
Hari ini ujian PKM. Tapi, beruntung hari ini bukan hari terakhir di sekolah. Kenyataan bahwa salah satu guru bahasa Inggris di SMA ini harus meninggalkan kewajibannya mengajar karena sang suami yang sedang sakit membuatku kami harus "angkat kaki" dari sekolah ini tepat sebelum UAS. Okeh, itu kabar baik. Karena masih ada waktu buat kami (Sigit, Shintia, dan Yesy) menorehkan beberapa kisah lagi.
SMA 72 Jakarta, dengan sambutan luar biasa dari para gurunya membuat kami enggan untuk bersegera "kabur" dari sini. Terlepas dari pikiran bahwa kita menjadi "ban serep" beberapa guru tapi ketika kita menjalaninya dengan senang hati hal yang terlihat berat jadi tak terasa.
Hari ini ujian PKM. Hari ini bukan perpisahan. Meski waktu untuk itu tentu semakin mendekat.
Hari ini ujian PKM. Hari ini aku menyadari bahwa mengajar dengan cinta jauh lebih menyenangkan dibanding mengajar karen profesi, yang berujung pada tujuan finansial. Terngiang nasihat seorang kawan tadi pagi saat dia memberikan kultum selepas shalat shubuh, "Mengajarlah dengan keikhlasan untuk Allah. Memberika yang terbaik kepada murid-murid kita karena kita mengharapkan perbaikan dari mereka. Memberikan contoh. Dan memberikan sentuhan cinta di setiap kata yang terlontar dari lisan-lisan kita. Yakinlah, menanam ilmu akan menghasilkan ilmu yang jauh lebih besar."
"Pengalaman adalah guru terbaik. Dan guru terbaik lahir dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ)"
Sabtu, Oktober 19, 2013
Pada Suatu Siang
Engkau yang melihat akan sama terharunya seperti aku. Bukankah Jakarta terkenal dengan kota individualis dan kapitalis, atau semacamnya. Ternyata tidak. Setelah siang itu.
Perjalanan pulang dari Praktik Ketrampilan Mengajar (PKM, dulu disebut PPL), di siang hari yang terik hari jumat, aku turun dari 03. Keringat yang saat itu membuat bajuku basah terus saja turun padahal sebuah bundel fotokopian sudah lecek karena beralih fungsi sebagai kipas. Aku tetap bergegas melangkahkan kaki karena shalat Jumat sudah harus didatangi. Di jembatan layang depan Pasca Sarjana UNJ aku melihat seorang kawan hendak menaiki tangga jembatan namun kemudian dia sedikit berlari dan mendekati seorang wanita tua yang berhenti di tiga anak tangga pertama. Kemudian samar kudengar dialog keduanya:
"Ibu, sini tasnya saya bawain," kata sang kawan. Masih tidak menyadari bahwa aku ada tak seberapa jauh darinya.
"Oh, iya. Makasih." kata sang ibu berusia kurang lebih lima puluh tahunan.
"Darimana, bu?" tanya sang kawan. "Dari rumah anak. Biasa nih, dibawain oleh-oleh."
"Emang rumahnya dimana, bu?"
"Di Bogor."
Keduanya menuruni tangga. "Sekarang pulang naik apa, bu?"
"Mau ke Manggarai. Naik kereta. Mau naik bajaj ke Manggarai."
Tak berapa lama mereka berdua sudah mendekati sebuah bajaj. "Pak, berapa ke Manggarai?"
"Dua puluh lima ribu."
"Buat ibu ini. Lima belas ribu aja ya!" tawa sang kawan. "Dua puluh deh, Mas."
"Udah, Pak. Lima belas ribu aja. Ini, Pak!" tanpa kuduga sang kawan mengeluarkan uang lima puluh ribuan. Aku yang berdiri tak jauh dari kejadian itu menggelengkan kepala. Heran dan terharu. Subhanallah.
Siang itu, sebuah hikmah terlempar jelas di depan mata.
Perjalanan pulang dari Praktik Ketrampilan Mengajar (PKM, dulu disebut PPL), di siang hari yang terik hari jumat, aku turun dari 03. Keringat yang saat itu membuat bajuku basah terus saja turun padahal sebuah bundel fotokopian sudah lecek karena beralih fungsi sebagai kipas. Aku tetap bergegas melangkahkan kaki karena shalat Jumat sudah harus didatangi. Di jembatan layang depan Pasca Sarjana UNJ aku melihat seorang kawan hendak menaiki tangga jembatan namun kemudian dia sedikit berlari dan mendekati seorang wanita tua yang berhenti di tiga anak tangga pertama. Kemudian samar kudengar dialog keduanya:
"Ibu, sini tasnya saya bawain," kata sang kawan. Masih tidak menyadari bahwa aku ada tak seberapa jauh darinya.
"Oh, iya. Makasih." kata sang ibu berusia kurang lebih lima puluh tahunan.
"Darimana, bu?" tanya sang kawan. "Dari rumah anak. Biasa nih, dibawain oleh-oleh."
"Emang rumahnya dimana, bu?"
"Di Bogor."
Keduanya menuruni tangga. "Sekarang pulang naik apa, bu?"
"Mau ke Manggarai. Naik kereta. Mau naik bajaj ke Manggarai."
Tak berapa lama mereka berdua sudah mendekati sebuah bajaj. "Pak, berapa ke Manggarai?"
"Dua puluh lima ribu."
"Buat ibu ini. Lima belas ribu aja ya!" tawa sang kawan. "Dua puluh deh, Mas."
"Udah, Pak. Lima belas ribu aja. Ini, Pak!" tanpa kuduga sang kawan mengeluarkan uang lima puluh ribuan. Aku yang berdiri tak jauh dari kejadian itu menggelengkan kepala. Heran dan terharu. Subhanallah.
Siang itu, sebuah hikmah terlempar jelas di depan mata.
Rabu, Agustus 21, 2013
Aku Tunggu di Fotokopian
SATU sms aku kirim kembali. Mungkin kali ini akan ada balasan.
Q tn9gU di FtoCopIaN. Da y9 iNgN Q oMogIn
Status: Delivered to My Honey
Kutunggu jawaban dari sms yang kukirim. Lima menit, sepuluh menit, tiga puluh menit. Tetap belum ada balasan. Kucoba untuk menelpon Marsya akhirnya. Aktif. Tapi, kenapa nggak diangkat. Aku tak mau berpikir macam-macam. Mungkin masih ada guru di kelasnya hingga sms dan telepon dariku diacuhkannya. Terus kupandangi layar hape-ku. Sebuah wallpaper tokoh kartun laki-laki dan perempuan.yang terlihat mesra menghiasinya. Berjalan bersisian yang sekali waktu si lelaki mencuri kesempatan mencium si perempuan. Ingin rasanya bisa seperti itu. Tapi, apa mau dikata. Marsya selalu menolak untuk berjalan berdua. Pasti ada saja temannya yang menjadi destroyer kencan kami.
“Ketika seorang laki-laki dan perempuan berduaan, orang ketiganya adalah setan.” katanya memberi penjelasan.
Marsya Safitri. Aku menerawang jauh ke masa ketika aku mulai pedekate. Sebuah ritual yang sangat mudah bagiku. Rayu, kasih hadiah, taklukkan. Tapi, ternyata tidak mudah untuk mendapatkan seorang Marsya. Tidak mempan dengan rayuan, tidak mau dikasih hadiah dan tentu saja tidak bisa aku taklukkan. Sebenarnya dulu tidak ada niat buat menjadikan Marsya sebagai pacar. Aku, seorang Dizky Farista yang menjadi idola di sekolah, yang pasti tidak cukup sulit untuk menjadikan siapapun untuk menjadi kekasih, memilih seorang Marsya yang sebenarnya biasa-biasa saja. Orangnya memang cantik. Tapi, menurutku, sebenarnya aku masih bisa mendapatkan seorang yang lebih dibandingkan Marsya.
Hah, dari awalnya memang cuma iseng menjadikan dia sebagai objek taruhan. Tapi, yang terjadi sekarang sungguh di luar dugaanku. Aku menjadi pemuja seorang Marsya. Aku tidak bisa kalau dia pergi jauh dariku. Aku selalu berharap bahwa dia akan menjadi milikku selamanya. Aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya.~El-Kharis~Aku sedang asyik menyeruput es jeruk yang aku pesan dari penjaga fotokopian ketika tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku.
“Dizky..”
Aku langsung menoleh mendengar suara yang sungguh begitu ingin aku dengar sedari tadi. Marsya tersenyum memamerkan giginya yang putih. Wajahnya ceria. Itulah salah satu yang membuat aku begitu sulit melupakan dia. Tak pernah terlihat murung, walaupun kadang aku tahu dia sedang sedih.
Aku masih ingat kejadian waktu kakaknya masuk rumah sakit dan akhirnya meninggal akibat penyakit malaria yang di deritanya. Tak ada raut kesedihan ketika kakaknya dimakamkan. Dia terlihat tegar, bahkan masih bisa tersenyum melihat kakaknya disemayamkan di liang lahat. Aneh, itu komentar yang aku lontarkan ketika aku bertanya dan dia, masih dengan tersenyum mengatakan “Dia adalah kakakku, Dizky, tapi tak pantas buatku menangisi kepergiannya. Aku memang sedih tapi, aku nggak mau menangis. Ini semua sudah ada yang ngatur. Buat apa aku menangis padahal masih banyak yang harus aku lakuin. Aku ikhlas.”
Benar-benar aku tidak mengerti jalan pikirannya.
“Dizky, kok ngelamun? Aku lagi ngomong sama kamu. Ada masalah ya?” tuh kan, aku cuekin saja dia masih saja sabar. Marsya… Marsya, kenapa kamu nggak marah sih?
Dia kemudian mengambil kursi dan duduk. Tidak begitu dekat denganku. Seperti biasanya.“Eh, enggak-enggak, aku cuma berpikir bahwa aku beruntung bisa pacaran ma kamu. Udah cantik, sabar, baik hati, pengertian, pokoknya beruntung deh aku bisa jadi pacar kamu.” Dia tersenyum. Aku memperhatikan wajahnya.
“Diz, ada apa nih kamu ngajak aku ketemuan?” dia bertanya tanpa memandangku. Aku sudah tahu semua kebiasaannya. Tidak mau berduaan, tidak mau dipegang, dan kalau bicara tidak pernah memandangku. Dia bilang ghadul bashar alias jaga pandangan. Aku sih awalnya tersinggung, tapi, ketika dia memberi pengertian, aku akhirnya menerima walaupun dengan terpaksa. Katanya juga dia melakukan ini yaaa… yang utama dia menghormati aku (aku tidak mengerti), kemudian katanya bahwa aku dan dia belum tentu berjodoh jadi, dia tidak mau untuk disentuh. Hah, pokoknya pertama kali aku jadian sama dia aku selalu dibikin eneg..
“Kok ngelamun lagi? Bener nih nggak mau cerita? Kalau gitu mending aku pergi aja ya, kayaknya kamu perlu sendiri.” kata Marsya yang melihat aku cuma melamun. Dia lalu beranjak dari tempat duduknya, aku berusaha memegang tangannya, dan dengan sigap dia menariknya. “Sorry.” kataku meminta maaf.
“Diz, aku pergi aja ya. Kamu kayaknya nggak lagi pengen diganggu.” lagi-lagi Marsya tersenyum. “Jangan pergi. Aku butuh kamu.” aku memasang tampang memelas. Aku tidak mau dia pergi.
“Ya udah, kamu mau ngomong apa?” tanyanya kemudian. Dia kembali duduk di tempat duduknya semula. “Kalau mau cerita, cerita aja! Siapa tahu aku bisa bantu. Paling tidak bisa ngurangin beban kamu. Tapi, cepet ya. Waktu istirahat tinggal sepuluh menit lagi nih.”
“Ok deh.” kata ku akhirnya.
Sepuluh menit berlalu. Namun, aku belum bisa mengatakan apa-apa. Aku hanya berbicara tidak keruan. Tidak jelas jalurnya. Sebenarnya aku tahu kalau dia kecewa aku menyita waktunya untuk hal yang sia-sia. Tapi, itulah Marsya, lagi-lagi dia membuatku terpesona. Dia tidak menampakkan kekecewaannya. “Aku harus masuk kelas, udah masuk nih. Kalau masih ada yang mau dibicarakan nanti aja pulang sekolah.”
“Makasih ya.” kataku tulus. Dia beranjak dari tempat duduknya meninggalkanku sendiri di sini.
*****
sPerTi bIaSA, aKu tuNg9u Di FtOcpIaN
Status: Delivered to My Honey
Aku masih termenung memikirkan masa-masa indah bersama Marsya. Sebenarnya apanya yang indah. Kita berdua tidak pernah jalan bareng, tidak pernah ada malam minggu dalam kamusnya, dan tidak pernah ada kata berduaan buat kami. Tiba-tiba aku berpkir bagaimana kalau dia meninggalkanku. Aku tak bisa membayangkan lebih jauh. Pokoknya, Marsya harus jadi milikku seorang. Aku tak mau dia pergi.
Sedetik kemudian Marsya sudah ada di belakangku. “Diz… kamu ada masalah apa sih? Cerita dong..! siapa tahu aku bisa bantu kamu.” dia berkata sambil menyeret kursi plastik di depan rak minuman. “Aku bingung mau cerita dari mana?” mataku beradu pandang sejenak untuk kemudian dia kembali menunduk seperti biasa. Ghadul bashar lagi.
“Ya udah, kamu bicara apa yang kamu anggap pen…”
“Aku sayang ma kamu dan aku nggak ingin kamu pergi.” aku menghentikan omongan Marsya. Kulirik wajahnya yang masih menunduk. Kucoba menebak apa yang dia pikirkan saat ini. Marsya mengangkat wajahnya namun, kembali menunduk ketika mengetahui aku memperhatikannya. “Jangan pandang aku seperti itu.” pintanya.
Aku diam sambil terus memperhatikan Marsya. Aku tidak peduli apa yang dikatakannya barusan. Dia terdiam. Aku pun tak ingin mengatakan apapun. Aku telah mengatakan apa yang ingin aku katakan. Dia menghela nafas panjang.
“Maafkan aku, Dizky, kayaknya aku harus meninggalkanmu saat ini juga.”
Aku terpaku. Pergi…. Tidak!!!… Marsya tidak bisa pergi. Marsya harus jadi milikku. Ya, dia tidak bisa meninggalkanku begitu saja.
“Maafka…”
“Kenapa, Sya..?” kembali kuhentikan omongannya. Dia masih menunduk “Perhitunganku salah.” kata Marsya.
“Perhitungan apa?” aku tidak mengerti maksudnya. “Diz, aku minta maaf. Sebenarnya aku melakukan ini semua….” Marsya berhenti.
“Aku kira aku bisa merubahmu. Aku pikir aku bisa mendapatkan cinta yang sesungguhnya dengan menjadi orang yang deket denganmu dan menghentikan kebiasa…”
“Jadi….. kau mempermainkan aku.” sekali lagi aku menghentikan omongannya.
“Bukan itu maksudku.” katanya. Terdengar isakan di sela-sela bicaranya. “Sya, kenapa kamu malah nangis?”
“Dizky, aku ingin merubahmu. Aku ingin membuatmu sadar bahwa kebiasanmu selama ini salah. Kamu selalu mempermainkan perasaan wanita tanpa pernah merasakan bagaimana perasaan mereka setelah kau sakiti.
Ketahuilah, aku deket denganmu supaya kau mengenal Dia. Aku ingin kau tahu Dia yang lebih pantas untuk dicintai. Dia yang cinta-Nya aku cari selama ini.” isakan Marsya semakin terdengar. Kulihat beberapa kali dia meneteskan airmata. “Jadi… kau hanya memperalatku. Kau mendekati aku supaya kau bisa deket denganya dan akhirnya pacaran, hah..? aku jadi penasaran siapa yang sudah merebut hatimu dariku.”
“Dia bukan siapa-siapa. Tapi, Dialah yang menciptakan cinta. Dia yang lebih pantas dicinta dan cinta dari-Nyalah yang seharusnya kita cari.”
“Alah, bullshit..” kataku menyumpah. “Dizky, jangan bicara seperti itu. Aku tahu bahwa aku telah bersalah tak mengatakan yang sebenarnya. Kini aku tahu bahwa usahaku selama ini sia-sia. Kau deket dengan-Nya karena aku, bukan karena keikhlasan yang aku inginkan.” aku biarkan Marsya bicara semaunya. Hatiku sudah hancur sekarang. Orang yang kucintai sepenuh hati ternyata hanya memperalatku. Disaat cinta itu benar-benar kurasakan, cinta itu malah menghancurkan hatiku.
“Aku minta maaf. Aku harus pergi.” Marsya beranjak dan aku hanya bisa menatapnya tanpa bisa menghentikannya. Biarlah dia tidak mengatakan yang sebenarnya, tapi, jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu, Sya. Aku terima apa yang kau lakukan padaku. Tolong jangan tinggalkan aku.
*****
Sudah seminggu Marsya tidak masuk sekolah. Teman-teman sekelasnya pun tidak tahu kenapa. Saat aku berusaha ke rumahnya untuk tahu kenapa dia tidak berangkat, aku mendapati rumahnya telah kosong. Tetangga sebelahnya pun sama tidak tahunya seperti teman-teman Marsya. Aku jadi bingung. Kemana lagi aku harus cari tahu keberadaan Marsya.
“Sya, kamu dimana? Aku memaafkanmu. Jangan buat aku merana.”
*****
Aku merobek sampul surat yang kupegang.
Teruntuk Dizky Farista,
Assalaamu’alaikum.
Diz, di surat ini aku harus jelaskan semuanya. Memang tidak seharusnya aku melakukan ini padamu dan aku tahu aku salah. Tapi, tolong maafkan aku. Sekarang aku harus mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak ingin kau salah paham.
Aku mendengar apa yang kau rencanakan terhadapku bersama Tyo dan Angga. Kau menjadikan aku objek taruhan hanya karena kau ingin mendapatkan uang enam ratus ribu. ketika aku mendengar itu aku heran, orang sepertimu menjadikan perasaan seorang wanita demi uang yang tak seberapa buatmu. Kau orang berkecukupan bahkan kaya dan itu menjamin bahwa kau tidak akan kekurangan uang. Namun, aku akhirnya tahu bahwa bukan uang yang jadi tujuanmu. Tapi, karena gengsi yang kau miliki. Kau tidak bisa berbuat seperti ini terus. Pasti, suatu saat kau akan merasa kehilangan saat orang yang kau cintai pergi meninggalkanmu.
Aku berhenti membaca surat dari Marsya. Sya, kamu benar. Saat ini aku merasa telah kehilangan separuh nyawaku. Kau yang telah membawanya.
Aku kembali melanjutkan membaca surat di tanganku.
Pada awalnya aku berpikir aku telah berhasil merubah kebiasaanmu. Kau bukan Dizky yang dulu. Tapi, ternyata aku salah. Kau memang berubah namun, kau berubah karena aku. Kau telah benar-benar mencintaiku.
Dizky, perlu kau tahu, ada yang lebih berhak dicintai dan lebih pantas untuk kau harapkan cintanya. Cinta dari Dzat yang menciptakan cinta, cinta untuk Dzat yang menciptakan kita. Dialah Tuhan yang telah menciptakan apapun yang ada di dunia. Dia sangat pencemburu, Dizky. Karena itu, aku tak berani mengkhianatinya. Percayalah, tanpa Dia cinta itu tidak bakal ada.
Sekarang aku harus pergi. Aku tak bermaksud menghakimimu. Aku juga tak bermaksud untuk mengguruimu. Aku memang tidak ingin terjerat pada cinta yang bisa membutakan kita. Siapa yang bisa menjamin bahwa kita nantinya tidak akan terjerumus ke dalam jurang nafsu. Kalau memang kita jodoh aku akan jadi milikmu. Sekali lagi maafkan aku. Aku harus pergi. Satu hal yang kini aku sadari dan aku tak mau ini terjadi sekarang. Aku sadar ‘Aku juga mencintaimu’. Maafkan aku, Dizky.
Wassalaamu’alaikum Salam
Maaf dariku Marsya
Aku meletakkan surat Marsya yang ia titipkan pada temannya untukku. Marsya memutuskan pindah ke Semarang, tempat saudara ibunya. Mataku tak kuasa menahan tangis yang sedari ingin kutumpahkan. Maafkan aku, Sya, aku telah salah menilaimu. Aku akan menunggumu.
*****
Aku menyandarkan kepalaku pada kursi yang aku duduki. Tugas-tugas yang harus aku kerjakan akhirnya selesai. Aku mengecek ulang apa yang telah ku kerjakan. Kontrak dengan PT Global Makmur telah kutandatangani, Laporan Keuangan Kantor telah aku cek, dan Daftar Tunjangan yang harus ku berikan kepada karyawanku telah kupelajari. Tiba-tiba Dinda, sekretarisku, masuk.
“Pak, Ibu tadi telpon, dia bertanya dimana bapak dan beliau mau ketemuan. Katanya anak-anak sudah nggak sabar ingin liburan bareng ayahnya.” kata Dinda.
“Oh, ya sudah, terima kasih.” Dinda keluar ruangan.
Kuambil handphone yang kutaruh di dalam tas. Ku klik menu kemudian pesan, tulis pesan dan kukirim satu sms pada istriku.
Aku tunggu di fotocopian samping sekolah
Status: Delivered to Istriku.
Q tn9gU di FtoCopIaN. Da y9 iNgN Q oMogIn
Status: Delivered to My Honey
Kutunggu jawaban dari sms yang kukirim. Lima menit, sepuluh menit, tiga puluh menit. Tetap belum ada balasan. Kucoba untuk menelpon Marsya akhirnya. Aktif. Tapi, kenapa nggak diangkat. Aku tak mau berpikir macam-macam. Mungkin masih ada guru di kelasnya hingga sms dan telepon dariku diacuhkannya. Terus kupandangi layar hape-ku. Sebuah wallpaper tokoh kartun laki-laki dan perempuan.yang terlihat mesra menghiasinya. Berjalan bersisian yang sekali waktu si lelaki mencuri kesempatan mencium si perempuan. Ingin rasanya bisa seperti itu. Tapi, apa mau dikata. Marsya selalu menolak untuk berjalan berdua. Pasti ada saja temannya yang menjadi destroyer kencan kami.
“Ketika seorang laki-laki dan perempuan berduaan, orang ketiganya adalah setan.” katanya memberi penjelasan.
Marsya Safitri. Aku menerawang jauh ke masa ketika aku mulai pedekate. Sebuah ritual yang sangat mudah bagiku. Rayu, kasih hadiah, taklukkan. Tapi, ternyata tidak mudah untuk mendapatkan seorang Marsya. Tidak mempan dengan rayuan, tidak mau dikasih hadiah dan tentu saja tidak bisa aku taklukkan. Sebenarnya dulu tidak ada niat buat menjadikan Marsya sebagai pacar. Aku, seorang Dizky Farista yang menjadi idola di sekolah, yang pasti tidak cukup sulit untuk menjadikan siapapun untuk menjadi kekasih, memilih seorang Marsya yang sebenarnya biasa-biasa saja. Orangnya memang cantik. Tapi, menurutku, sebenarnya aku masih bisa mendapatkan seorang yang lebih dibandingkan Marsya.
Hah, dari awalnya memang cuma iseng menjadikan dia sebagai objek taruhan. Tapi, yang terjadi sekarang sungguh di luar dugaanku. Aku menjadi pemuja seorang Marsya. Aku tidak bisa kalau dia pergi jauh dariku. Aku selalu berharap bahwa dia akan menjadi milikku selamanya. Aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya.~El-Kharis~Aku sedang asyik menyeruput es jeruk yang aku pesan dari penjaga fotokopian ketika tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku.
“Dizky..”
Aku langsung menoleh mendengar suara yang sungguh begitu ingin aku dengar sedari tadi. Marsya tersenyum memamerkan giginya yang putih. Wajahnya ceria. Itulah salah satu yang membuat aku begitu sulit melupakan dia. Tak pernah terlihat murung, walaupun kadang aku tahu dia sedang sedih.
Aku masih ingat kejadian waktu kakaknya masuk rumah sakit dan akhirnya meninggal akibat penyakit malaria yang di deritanya. Tak ada raut kesedihan ketika kakaknya dimakamkan. Dia terlihat tegar, bahkan masih bisa tersenyum melihat kakaknya disemayamkan di liang lahat. Aneh, itu komentar yang aku lontarkan ketika aku bertanya dan dia, masih dengan tersenyum mengatakan “Dia adalah kakakku, Dizky, tapi tak pantas buatku menangisi kepergiannya. Aku memang sedih tapi, aku nggak mau menangis. Ini semua sudah ada yang ngatur. Buat apa aku menangis padahal masih banyak yang harus aku lakuin. Aku ikhlas.”
Benar-benar aku tidak mengerti jalan pikirannya.
“Dizky, kok ngelamun? Aku lagi ngomong sama kamu. Ada masalah ya?” tuh kan, aku cuekin saja dia masih saja sabar. Marsya… Marsya, kenapa kamu nggak marah sih?
Dia kemudian mengambil kursi dan duduk. Tidak begitu dekat denganku. Seperti biasanya.“Eh, enggak-enggak, aku cuma berpikir bahwa aku beruntung bisa pacaran ma kamu. Udah cantik, sabar, baik hati, pengertian, pokoknya beruntung deh aku bisa jadi pacar kamu.” Dia tersenyum. Aku memperhatikan wajahnya.
“Diz, ada apa nih kamu ngajak aku ketemuan?” dia bertanya tanpa memandangku. Aku sudah tahu semua kebiasaannya. Tidak mau berduaan, tidak mau dipegang, dan kalau bicara tidak pernah memandangku. Dia bilang ghadul bashar alias jaga pandangan. Aku sih awalnya tersinggung, tapi, ketika dia memberi pengertian, aku akhirnya menerima walaupun dengan terpaksa. Katanya juga dia melakukan ini yaaa… yang utama dia menghormati aku (aku tidak mengerti), kemudian katanya bahwa aku dan dia belum tentu berjodoh jadi, dia tidak mau untuk disentuh. Hah, pokoknya pertama kali aku jadian sama dia aku selalu dibikin eneg..
“Kok ngelamun lagi? Bener nih nggak mau cerita? Kalau gitu mending aku pergi aja ya, kayaknya kamu perlu sendiri.” kata Marsya yang melihat aku cuma melamun. Dia lalu beranjak dari tempat duduknya, aku berusaha memegang tangannya, dan dengan sigap dia menariknya. “Sorry.” kataku meminta maaf.
“Diz, aku pergi aja ya. Kamu kayaknya nggak lagi pengen diganggu.” lagi-lagi Marsya tersenyum. “Jangan pergi. Aku butuh kamu.” aku memasang tampang memelas. Aku tidak mau dia pergi.
“Ya udah, kamu mau ngomong apa?” tanyanya kemudian. Dia kembali duduk di tempat duduknya semula. “Kalau mau cerita, cerita aja! Siapa tahu aku bisa bantu. Paling tidak bisa ngurangin beban kamu. Tapi, cepet ya. Waktu istirahat tinggal sepuluh menit lagi nih.”
“Ok deh.” kata ku akhirnya.
Sepuluh menit berlalu. Namun, aku belum bisa mengatakan apa-apa. Aku hanya berbicara tidak keruan. Tidak jelas jalurnya. Sebenarnya aku tahu kalau dia kecewa aku menyita waktunya untuk hal yang sia-sia. Tapi, itulah Marsya, lagi-lagi dia membuatku terpesona. Dia tidak menampakkan kekecewaannya. “Aku harus masuk kelas, udah masuk nih. Kalau masih ada yang mau dibicarakan nanti aja pulang sekolah.”
“Makasih ya.” kataku tulus. Dia beranjak dari tempat duduknya meninggalkanku sendiri di sini.
*****
sPerTi bIaSA, aKu tuNg9u Di FtOcpIaN
Status: Delivered to My Honey
Aku masih termenung memikirkan masa-masa indah bersama Marsya. Sebenarnya apanya yang indah. Kita berdua tidak pernah jalan bareng, tidak pernah ada malam minggu dalam kamusnya, dan tidak pernah ada kata berduaan buat kami. Tiba-tiba aku berpkir bagaimana kalau dia meninggalkanku. Aku tak bisa membayangkan lebih jauh. Pokoknya, Marsya harus jadi milikku seorang. Aku tak mau dia pergi.
Sedetik kemudian Marsya sudah ada di belakangku. “Diz… kamu ada masalah apa sih? Cerita dong..! siapa tahu aku bisa bantu kamu.” dia berkata sambil menyeret kursi plastik di depan rak minuman. “Aku bingung mau cerita dari mana?” mataku beradu pandang sejenak untuk kemudian dia kembali menunduk seperti biasa. Ghadul bashar lagi.
“Ya udah, kamu bicara apa yang kamu anggap pen…”
“Aku sayang ma kamu dan aku nggak ingin kamu pergi.” aku menghentikan omongan Marsya. Kulirik wajahnya yang masih menunduk. Kucoba menebak apa yang dia pikirkan saat ini. Marsya mengangkat wajahnya namun, kembali menunduk ketika mengetahui aku memperhatikannya. “Jangan pandang aku seperti itu.” pintanya.
Aku diam sambil terus memperhatikan Marsya. Aku tidak peduli apa yang dikatakannya barusan. Dia terdiam. Aku pun tak ingin mengatakan apapun. Aku telah mengatakan apa yang ingin aku katakan. Dia menghela nafas panjang.
“Maafkan aku, Dizky, kayaknya aku harus meninggalkanmu saat ini juga.”
Aku terpaku. Pergi…. Tidak!!!… Marsya tidak bisa pergi. Marsya harus jadi milikku. Ya, dia tidak bisa meninggalkanku begitu saja.
“Maafka…”
“Kenapa, Sya..?” kembali kuhentikan omongannya. Dia masih menunduk “Perhitunganku salah.” kata Marsya.
“Perhitungan apa?” aku tidak mengerti maksudnya. “Diz, aku minta maaf. Sebenarnya aku melakukan ini semua….” Marsya berhenti.
“Aku kira aku bisa merubahmu. Aku pikir aku bisa mendapatkan cinta yang sesungguhnya dengan menjadi orang yang deket denganmu dan menghentikan kebiasa…”
“Jadi….. kau mempermainkan aku.” sekali lagi aku menghentikan omongannya.
“Bukan itu maksudku.” katanya. Terdengar isakan di sela-sela bicaranya. “Sya, kenapa kamu malah nangis?”
“Dizky, aku ingin merubahmu. Aku ingin membuatmu sadar bahwa kebiasanmu selama ini salah. Kamu selalu mempermainkan perasaan wanita tanpa pernah merasakan bagaimana perasaan mereka setelah kau sakiti.
Ketahuilah, aku deket denganmu supaya kau mengenal Dia. Aku ingin kau tahu Dia yang lebih pantas untuk dicintai. Dia yang cinta-Nya aku cari selama ini.” isakan Marsya semakin terdengar. Kulihat beberapa kali dia meneteskan airmata. “Jadi… kau hanya memperalatku. Kau mendekati aku supaya kau bisa deket denganya dan akhirnya pacaran, hah..? aku jadi penasaran siapa yang sudah merebut hatimu dariku.”
“Dia bukan siapa-siapa. Tapi, Dialah yang menciptakan cinta. Dia yang lebih pantas dicinta dan cinta dari-Nyalah yang seharusnya kita cari.”
“Alah, bullshit..” kataku menyumpah. “Dizky, jangan bicara seperti itu. Aku tahu bahwa aku telah bersalah tak mengatakan yang sebenarnya. Kini aku tahu bahwa usahaku selama ini sia-sia. Kau deket dengan-Nya karena aku, bukan karena keikhlasan yang aku inginkan.” aku biarkan Marsya bicara semaunya. Hatiku sudah hancur sekarang. Orang yang kucintai sepenuh hati ternyata hanya memperalatku. Disaat cinta itu benar-benar kurasakan, cinta itu malah menghancurkan hatiku.
“Aku minta maaf. Aku harus pergi.” Marsya beranjak dan aku hanya bisa menatapnya tanpa bisa menghentikannya. Biarlah dia tidak mengatakan yang sebenarnya, tapi, jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu, Sya. Aku terima apa yang kau lakukan padaku. Tolong jangan tinggalkan aku.
*****
Sudah seminggu Marsya tidak masuk sekolah. Teman-teman sekelasnya pun tidak tahu kenapa. Saat aku berusaha ke rumahnya untuk tahu kenapa dia tidak berangkat, aku mendapati rumahnya telah kosong. Tetangga sebelahnya pun sama tidak tahunya seperti teman-teman Marsya. Aku jadi bingung. Kemana lagi aku harus cari tahu keberadaan Marsya.
“Sya, kamu dimana? Aku memaafkanmu. Jangan buat aku merana.”
*****
Aku merobek sampul surat yang kupegang.
Teruntuk Dizky Farista,
Assalaamu’alaikum.
Diz, di surat ini aku harus jelaskan semuanya. Memang tidak seharusnya aku melakukan ini padamu dan aku tahu aku salah. Tapi, tolong maafkan aku. Sekarang aku harus mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak ingin kau salah paham.
Aku mendengar apa yang kau rencanakan terhadapku bersama Tyo dan Angga. Kau menjadikan aku objek taruhan hanya karena kau ingin mendapatkan uang enam ratus ribu. ketika aku mendengar itu aku heran, orang sepertimu menjadikan perasaan seorang wanita demi uang yang tak seberapa buatmu. Kau orang berkecukupan bahkan kaya dan itu menjamin bahwa kau tidak akan kekurangan uang. Namun, aku akhirnya tahu bahwa bukan uang yang jadi tujuanmu. Tapi, karena gengsi yang kau miliki. Kau tidak bisa berbuat seperti ini terus. Pasti, suatu saat kau akan merasa kehilangan saat orang yang kau cintai pergi meninggalkanmu.
Aku berhenti membaca surat dari Marsya. Sya, kamu benar. Saat ini aku merasa telah kehilangan separuh nyawaku. Kau yang telah membawanya.
Aku kembali melanjutkan membaca surat di tanganku.
Pada awalnya aku berpikir aku telah berhasil merubah kebiasaanmu. Kau bukan Dizky yang dulu. Tapi, ternyata aku salah. Kau memang berubah namun, kau berubah karena aku. Kau telah benar-benar mencintaiku.
Dizky, perlu kau tahu, ada yang lebih berhak dicintai dan lebih pantas untuk kau harapkan cintanya. Cinta dari Dzat yang menciptakan cinta, cinta untuk Dzat yang menciptakan kita. Dialah Tuhan yang telah menciptakan apapun yang ada di dunia. Dia sangat pencemburu, Dizky. Karena itu, aku tak berani mengkhianatinya. Percayalah, tanpa Dia cinta itu tidak bakal ada.
Sekarang aku harus pergi. Aku tak bermaksud menghakimimu. Aku juga tak bermaksud untuk mengguruimu. Aku memang tidak ingin terjerat pada cinta yang bisa membutakan kita. Siapa yang bisa menjamin bahwa kita nantinya tidak akan terjerumus ke dalam jurang nafsu. Kalau memang kita jodoh aku akan jadi milikmu. Sekali lagi maafkan aku. Aku harus pergi. Satu hal yang kini aku sadari dan aku tak mau ini terjadi sekarang. Aku sadar ‘Aku juga mencintaimu’. Maafkan aku, Dizky.
Wassalaamu’alaikum Salam
Maaf dariku Marsya
Aku meletakkan surat Marsya yang ia titipkan pada temannya untukku. Marsya memutuskan pindah ke Semarang, tempat saudara ibunya. Mataku tak kuasa menahan tangis yang sedari ingin kutumpahkan. Maafkan aku, Sya, aku telah salah menilaimu. Aku akan menunggumu.
*****
Aku menyandarkan kepalaku pada kursi yang aku duduki. Tugas-tugas yang harus aku kerjakan akhirnya selesai. Aku mengecek ulang apa yang telah ku kerjakan. Kontrak dengan PT Global Makmur telah kutandatangani, Laporan Keuangan Kantor telah aku cek, dan Daftar Tunjangan yang harus ku berikan kepada karyawanku telah kupelajari. Tiba-tiba Dinda, sekretarisku, masuk.
“Pak, Ibu tadi telpon, dia bertanya dimana bapak dan beliau mau ketemuan. Katanya anak-anak sudah nggak sabar ingin liburan bareng ayahnya.” kata Dinda.
“Oh, ya sudah, terima kasih.” Dinda keluar ruangan.
Kuambil handphone yang kutaruh di dalam tas. Ku klik menu kemudian pesan, tulis pesan dan kukirim satu sms pada istriku.
Aku tunggu di fotocopian samping sekolah
Status: Delivered to Istriku.
Langganan:
Postingan (Atom)





